Hadiri Puncak Harlah PAI Ke-52, KH Marzuqi Mustamar Tegaskan Pentingnya Mempertahankan Prinsip Beragama

Turut menyemarakkan Peringatan Hari Lahir Jurusan yang ke-52, Jurusan PAI UIN Walisongo gelar Ngaji Budaya bersama Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. Marzuki Mustamar, M. Ag. Ngaji budaya digelar pada Senin (3/10) di Gedung Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dengan mengarahkan seluruh mahasiswa untuk mengikuti acara tersebut.

Turut hadir pula dalam pengajian Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Dr. KH. Ahmad Ismail, M. Ag., M. Hum., Wakil Dekan III, Prof. Dr. Muslih, M. A., Ketua Jurusan PAI Dr. Fihris, M. Ag., serta Sekretaris Jurusan Dr. Kasan Bisri, M. A.

Dalam kesempatan Ngaji Budaya, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Dr. KH. Ahmad Ismail, M. Ag., M. Hum. memberikan penekanan bahwa sebagai jurusan yang berada dalam ranah civitas akademika Jurusan PAI harus senentiasa mampu untuk menghadirkan atmosfer akademik di dalam kegiatannya. Dalam memperingati hari lahir, kebanyakan orang memperingatinya dengan suka ria. Namun, sebagai jurusan akademisi rasanya perlu bahkan wajib untuk memberikan ruang akademik di dalamnya.

“Memperingati hari milad dengan memasukkan berbagai acara yang meriah seperti halnya solawatan memang hal yang bagus dan penting. Namun, tidak akan kalah pentingnya untuk mengetahui dan memahami ilmu mengenai apa yang menjadi dalil, alasan, ataupun hujjah mengapa kegiatan tersebut dilakukan.” Lanjutnya.

Dalam acara tersebut Jurusan PAI mencoba untuk memberikan forum di mana mahasiswa PAI mampu untuk menyerap berbagai mauidah, ilmu, dan tentunya teladan yang berasal dari KH. Marzuki Mustamar, M. Ag. Pada kesempatan tersebut, beliau memberikan berbagai penekanan mengenai pentingnya umat mempertahankan prinsip, hujjah, dan amaliyah keagamaan di tengah gempuran banyaknya pemikiran yang tidak moderat.

Budaya dan tradisi merupakan hal yang cukup penting dalam merekatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui budaya, masyarakat mampu terikat oleh hubungan yang lebih bersifat kekeluargaan. Hal ini menjadi penting untuk menguatkan bangsa dan negara.

Saat ini, umat banyak mendapat tekanan dari berbagai pihak maupun kelompok yang berusaha untuk menghapuskan tradisi dan budaya di nusantara. Tujuannya tidak lain adalah untuk memecah kesatuan. Maka dari itu, tidak heran apabila belakangan ini banyak pendapat maupun pemikiran yang mengklaim bahwa tradisi dan budaya merupakan suatu hal yang bid’ah dan sesat.

“Dengan hilangnya salah satu perekat kehidupan berbangsa dan bernegara, maka masyarakat mudah difitnah, diadu domba, dan saling berperang. Akhirnya, adanya tujuan untuk memecah belah negara dan bangsa. Maka, menjaga tradisi keagamaan menjadi penting dalam konteks upaya mempertahankan kedaulatan negara. ” Tegas beliau.

Dalam konteks mahasiswa PAI, menjadi agen untuk mempertahankan budaya tradisi keagamaan menjadi peranan yang sangat penting.

“Sebagai mahasiswa, terlebih Jurusan Pendidikan Agama Islam. Panjenengan harus mampu untuk terus mengamalkan amaliyah keagamaan yang moderat di tengah masyarakat sekaligus memberikan pemahaman yang benar mengenai hal tersebut. Hal ini penting karena di luar sana banyak orang yang menjalankan, tetapi tidak mampu untuk memberikan pemahaman yang benar.” tambah beliau lagi