HMJ PAI Menanggapi Pengenaan Kebijakan PPN untuk Pendidikan

Dok. DIKNAL

HMJ PAI melangsungkan Kajian PAI dengan materi pembahasan “Pendidikan dalam Bayang-Bayang Komersial” pada Sabtu (19/6). Acara ini diinisiasi sebagai bentuk respon mahasiswa PAI terhadap kebijakan PPN di bulan ini yang cukup menuai polemik di masyarakat. Acara kajian dilangsungkan secara online melalui platform Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung melalui kanal youtube HMJ PAI UIN Walisongo.

Acara ini memuat 6 susunan acara di dalamnya. Di antaranya adalah pembukaan, pemantikan materi, pemaparan materi, diskusi tanya jawab dan pembagian e-sertifikat, serta penutup. Ainy Zahra sebagai moderator dalam acara ini bertugas untuk  memantik materi sebelum acara inti dimulai. “Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan cita-cita setiap bangsa. Komersialisasi penddikan dapat didefinisikan sebagai praktik berbasis ekonomi yang mencari keuntungan finansial di bidang pendidikan,” tuturnya.

Arif Bagas Adi Satria, S.Pd.  founder Societeit De Kata Mata Salatiga yang dalam acara ini memberikan pemaparan materi Penddikan dalam Bayang-Bayang Komersial. “Seharusnya berdasarkan UU no. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan potensi spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya untuk menegaskan tantangan pendidikan di era ini.

Dalam sesi diskusi tanya jawab dan pembagian e-sertifikat, terhitung terdapat 7 orang  penanya dalam sesi ini. Di sela-sela sesi tanya jawab terdapat pembagian link absensi guna pengiriman e-sertifikat kepada para peserta kajian kali ini.

Pada akhir acara kajian, Ainy Zahra sebagai moderator membacakan kesimpulan  materi serta sesi diskusi tanya jawab. “ Jika kita menjadi guru, kita harus dan dituntut untuk memiliki media yang kreatif agar anak-anak semangat dalam belajar. Lalu yang terakhir, untuk uang UKT, bagi para mahasiswa harusnya tidak menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang), karena uang UKT digunakan untuk pembangunan UKM. Jadi, alangkah ruginya kita jika tidak mengikuti UKM, karena di dalamnya ada hak kita,” simpulnya.

Sebelum acara ditutup diadakan sesi dokumentasi dengan foto bersama antara pantia, peserta, dan pemateri. Terakhir, acara ditutup oleh MC kajian PAI yakni, Tri Budi Yuniarto.

Penulis : Abdul Hanif Fauzi (Kominfo HMJ PAI 2021)

UIN Walisongo Semarang Gelar Wisuda dengan Sistem Blended

Dok. Istimewa

UIN Walisongo menyelengarakan Sidang Senat Terbuka dengan acara Wisuda Doktor ke-23, Magister ke-47, dan Sarjana ke-80. Acara ini diselenggarakan dengan sistem blended pada Selasa hingga Rabu (8-9/6). Prosesi wisuda sendiri, dibagi menjadi 4 kloter dan diselenggarakan di gedung Auditorium 2, Kampus 3 UIN Walisongo.

Prosesi wisuda diikuti oleh sebanyak 436 wisudawan yang terdiri dari  8 orang doktor, 20 orang magister, dan  408 orang sarjana.  Jumlah ini merupakan gabungan dari 8 fakultas dan 1 pascasarjana.

Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag. dalam pidatonya memberikan ucapan selamat kepada para wisudawan. Selain itu, beliau juga memberikan kutipan pesan Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Selo. Pesan tersebut adalah pentingnya kecerdasan, kreatifitas, dan berdoa kepada Allah.

“Jadilah pacul yang membedah sawah, yang menggemburkan tanah. Lalu obahing awak agar badan itu digerakkan untuk selalu berkreasi dan berkhidmah di tengah masyarakat. Lalu Doran, Doa marang pangeran. Kecerdasan, kreativitas itu harus, tapi jangan lupa berdoa,” tambahnya. Kemudian, acara dilanjutkan dengan prosesi doa bersama yang dipimpin oleh Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag.

Acara selanjutnya adalah prosesi wisuda dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Fakultas Psikologi dan Kesehatan. Dekan Fakultas Ilmu Tariyah dan Keguruan, Dr. Hj. Lift Anis Ma’sumah, M.Ag.  yang pada kesempatan ini menyampaikan pidato juga menyampaikan pesan kepada para wisudawan FITK dan FPK .

“Amalkan semua ilmu yang telah kalian peroleh dari dosen kalian untuk kemanfaatan dan kemaslahatan. Kualitas ilmu seseorang akan semakin baik bahkan meningkat jika diiringi dengan ketulusan untuk berbagi”.

Prosesi wisuda dari FITK sendiri, khususnya dari program studi PAI diikuti oleh 27 orang wisudawan. Rizki Ananda, wisudawan terbaik prodi PAI yang dalam kesempatan ini hadir sebagai wisudawan offline mengaku bersyukur berkesempatan menjadi wisudawan terbaik dan dapat mengikuti wisuda secara offline walaupun terdapat keterbatasan.

“Ada yang kurang aja rasanya, yang mana dulu Momen Wisuda banyak orang orang nyambut, sekarang orang orang di batasi kaya keluarga buat jemput dan temen-temen lainnya. Tapi mau bagaimana lagi juga hal itu emang yang paling efektif untuk mengurangi kerumunan banyak orang, mengingat sedang terjadi pandemi Covid -19 ini,” ujarnya.

Prosesi wisuda akhirnya selesai pada Rabu, 9 Juni dengan diwisudanya wisudawan dari Fakultas Ushuludin dan Humaniora, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Penulis : Abdul Hanif Fauzi (Kominfo HMJ PAI 2021)

BLENDED LEARNING LANCAR, MAHASISWA TERKESAN

Dok. Berlia

Selasa (08/06) Perkuliahan Blended Learning Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo telah selesai dilaksanakan. Blended Learning ini merupakan bentuk uji coba dengan menggabungkan antara bentuk perkuliahan offline di kampus dan online melalui media Zoom maupun Google Meet.

Blended Learning yang dilaksanakan selama kurang lebih 16 hari ini, terhitung mulai dari hari Senin (24/05) sampai hari Selasa (08/06) ternyata memberikan kesan tersendiri bagi mahasiswa Pendidikan Agama Islam Angkatan 2020 yang ikut serta di dalamnya.

“Berkesan banget, bisa ketemu temen-temen yang dulunya online sekarang bisa ketemu di kampus,” tutur Asfarina Hidayah.

Setuju dengan pendapat Asfarina, Aulia Berlia Novita pun menambahkan bahwa dalam perkuliahan Blended Learning ini jauh lebih memahamkan daripada saat perkuliahan dilaksanakan secara online.

“Aku sebenernya nggak tau berkesan yang dimaksud orang-orang itu apa, tapi memang kalo untuk blended yang di kampus itu jauh lebih paham sama penjelasan dari dosen daripada waktu online, terus lebih bisa memahami karakter temen-temen dan bisa lebih deket dari sebelumnya,” ujar Aulia Berlia Novita.

Berbeda dengan mahasiswa yang datang ke kampus, mahasiswa yang perkuliahannya melalui media virtual daring, seringkali mengalami kendala.

“Tentu berkesan sekali, terutama bagi kelas saya yang mendapat kesempatan blended. Tapi ya kadang trouble dari media virtualnya membuat penjelasan dari dosen yang berada di kampus itu kurang jelas. Mungkin hal ini bisa dicarikan solusi supaya mahasiswa yang melakukan perkuliahan secara daring juga bisa mendapatkan penjelasan yang sama jelasnya dengan yang berada di kampus,” jelas Fathul ‘Allam.

 Penulis : Azka Nurfadila (Kominfo HMJ PAI 2021)