Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Selenggarakan Olimpiade Cendekiawan Muslim Season 2 pada Rabu (13/5/26) di Teater IsDB FTIK Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Acara ini mengangkat tema “Cendekiawan Muslim Menuju Keunggulan Peradaban melalui Integrasi Keilmuan” yang dihadiri oleh Ketua Jurusan, Jajaran Dosen, dan para peserta lomba OCM Tingkat Nasional SMP/MTs Sederajat dan SMA/MA Sederajat, serta dihadiri Para Juri Olimpiade.
Ketua panitia, Rasid Pranama Putra mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh pihak, serta berharap para peserta mampu mengikuti lomba sampai akhir, karena menang atau kalah itu bukan hal utama, tetapi keberanian adalah kemenangan sejati
“Saya ucapkan selamat datang kepada para peserta di kampus ini, dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkenan mengsukseskan acara ini, serta saya berharap kepada para peserta lomba agar mampu mengikuti lomba sampai akhir, karena menang atau kalah itu bukan hal utama, tetapi keberanian adalah kemenangan sejati,” ungkapnya.
Ketua Umum HMJ PAI, Muhammad Aidil Maghfur memberikan pesan kepada para peserta lomba untuk menjaga suportifitas dan berharap apa yang dipersiapkan menjadi hasil seperti yang diiinginkan.
“Saya berpesan kepada para peserta lomba untuk menjaga supotifitas, dan berharap apa yang kalian persiapkan menjadi hasil seperti yang kalian inginkan,” jelasnya.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan peraturan lomba oleh panitia yang bertugas, lalu para peserta diberikan waktu jeda, kemudian perlombaan dimulai dari jenjang SMP/MTs Sederajat.
Sesi pertama, semua peserta lomba mengerjakan soal tertulis dalam waktu yang ditentukan, kemudian dikumpulkan ke panitia.
Sesi kedua, semua peserta lomba mengerjakan soal benar atau salah dengan ketentuan yang diberikan panitia.
Sesi ketiga, semua peserta mengerjakan soal jawaban singkat dengan rincian 15 soal sesuai ketentuan yang diberikan panitia.
Sesi terakhir, semua peserta lomba mengerjakan soal dengan jawaban rebutan sesuai dengan ketentuan yang diberikan panitia.
Selanjutnya menuju babak final yang diikuti oleh 5 peserta, dan pemenangnya untuk jenjang SMP/MTs Sederajat adalah Batrisya Raihanah Prabowo dari SMP Islam Hidayatullah Banyumanik Semarang.
Selanjutnya perlombaan untuk jenjang SMA/MA Sederajat dengan rincian sesi soal seperti jenjang SMP/MTs Sederajat, dan pemenang lomba untuk jenjang SMA/MA Sederajat adalah Fattya Rahmaniya dari MA Darul Huda Ponorogo.
Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan lomba, lalu ditutup dengan pembacaan doa.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dengan tema “Roadmap Lolos Beasiswa: Mempersiapkan Diri Sejak Dini” pada Rabu (13/5) bertempat di Gedung Teater IsDB FTIK Lantai 3 Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Acara ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan seputar program Beasiswa Indonesia Bangkit serta membantu peserta memahami strategi dan persiapan dalam menghadapi proses seleksi beasiswa. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh Sekretaris Jurusan PAI, narasumber, moderator, pengurus HMJ PAI, serta peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta rangkaian sambutan sebelum memasuki acara inti.
Shindy Nur Rohmah, selaku ketua pelaksana, menyampaikan bahwa Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit diselenggarakan sebagai wadah untuk memberikan wawasan dan motivasi kepada peserta terkait peluang beasiswa serta persiapan dalam mengikuti proses seleksi.
“Tujuan dari seminar ini adalah untuk memberikan informasi, wawasan, serta motivasi kepada peserta mengenai peluang Beasiswa Indonesia Bangkit. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu peserta memahami proses persiapan pendaftaran serta mendorong peserta untuk meningkatkan kualitas diri agar dapat meraih kesempatan dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Aidil Maghfur, selaku Ketua HMJ PAI, menyampaikan pentingnya memahami alur dan persiapan dalam mengikuti program Beasiswa Indonesia Bangkit. Ia menyebut seminar ini sebagai kesempatan untuk memperoleh informasi terkait proses pendaftaran beasiswa.
“Pada seminar kali ini, narasumber akan memaparkan tips dan trik dalam mengikuti serta mempersiapkan pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit agar peluang lolos seleksi dapat lebih maksimal. Selain itu, narasumber juga merupakan Pengurus Nasional Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) sehingga peserta diharapkan dapat memperoleh informasi dan gambaran yang lebih mendalam terkait proses seleksi beasiswa,” ungkapnya.
Bapak Moh. Syakur, M.S.I selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam, menyampaikan bahwa memperoleh beasiswa memerlukan strategi dan kesiapan yang matang, tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik.
“Untuk bisa lolos beasiswa tentu tidak mudah karena diperlukan strategi dan persiapan yang baik. Banyak pelajar maupun mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan beasiswa. Beasiswa bukan hanya sarana untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi motivasi dan bentuk kesiapan diri untuk memberikan kontribusi dalam pendidikan dan syiar Islam,” tuturnya.
Setelah rangkaian sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi inti berupa Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit yang menghadirkan Widodo Febri Utomo, M.Pd. selaku Pengurus Nasional Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) sebagai narasumber dan dipandu oleh Rizka Febri Melindasari, S.Pd. selaku moderator.
Widodo Febri Utomo, M.Pd. selaku narasumber memaparkan materi mengenai alur dan proses seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit, mulai dari jalur pendaftaran hingga tahapan seleksi wawancara. Peserta juga diajak memahami strategi menghadapi seleksi melalui pembahasan beberapa contoh soal akademik.
“Seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit bukan hanya tentang melengkapi persyaratan administrasi, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri dalam menghadapi setiap tahapan seleksi. Mulai dari penugasan, tes akademik, hingga wawancara, semuanya memerlukan strategi dan kesiapan yang matang agar peluang lolos bisa lebih besar,” jelasnya.
Usai seminar Beasiswa Indonesia Bangkit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dokumentasi, dan foto bersama. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan moderator serta pengumuman juara dan penyerahan hadiah kepada para pelajar peserta Olimpiade Cendekiawan Muslim (OCM).
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan WORKSHOP INSIGHT (Workshop Innovation and Smart Technology for Education) pada Selasa (28/02) bertempat di Gedung Teater Soshum Lantai 3 Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Acara ini dihadiri oleh Ketua Jurusan PAI, delegasi ormawa dan kelas, serta pengurus HMJ PAI.
Alan Tsalits Kholifatustsani, selaku ketua pelaksana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Workshop Insight bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam membuat media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
“Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai bagaimana cara membuat media pembelajaran yang kreatif, inovatif dan relevan di zaman sekarang, sehingga nantinya kita semua sebagai calon pendidik tentunya agar bisa menciptakan pembelajaran yang interaktif,” ungkapnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Jurusan PAI, Hj. Zulaikha, M.Ag., M.Pd., beliau menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi secara bijak di era digital untuk mendukung kemajuan pendidikan.
“Workshop Insight ini sangat penting untuk kebutuhan kita karena kita hidup diera digital, kita tidak bisa menutup mata apalagi sama sekali tidak memanfaatkan era ini untuk kemajuan dan kemaslahatan kita sebagai pendidik,”
Memasuki acara inti, Khoirul Umam selaku moderator membuka rangkaian pelatihan Workshop dengan tema “Digital Litercy for Islamic Educators: Membangun Media Pembelajaran yang Kreatif dan Adaptif”.
Arfian Hidayat selaku pemateri mengawali pemaparan tentang pentingnya inovasi media pembelajaran di era digital, khususnya dalam pembelajaran agama.
“Kalau pembelajaran agama masih hanya mengandalkan ceramah di era digital, maka yang terjadi bukan pemahaman, tapi kejenuhan, karena itu guru harus kreatif memanfaatkan media agar belajar jadi bermakna dan menyenangkan, salah satunya dengan media pembelajaran interaktif.” Jelasnya.
Pemaparan dilanjutkan dengan praktik berbagai game edukasi seperti Wayground, Wordwall, dan ZepQuiz sebagai media pembelajaran interaktif.
Dalam sesi praktik, narasumber tidak hanya memperkenalkan fitur utama setiap platform, tetapi juga mengajak peserta untuk langsung membuat dan menggunakan game edukasi. Peserta turut mencoba mengerjakan hingga menyusun kuis secara mandiri, sehingga memperoleh gambaran praktis mengenai pemanfaatan media digital interaktif untuk meningkatkan keterlibatan dan efektivitas pembelajaran.
Usai pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, beberapa peserta mengajukan pertanyaan kepada pemateri, sehingga diskusi berlangsung dengan cukup interaktif.
Setelah sesi tanya jawab berakhir, rangkaian kegiatan workshop ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama.
Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan TPQ Al-Ghofur Ngaliyan menggelar kegiatan PAI Mengajar dengan tema “Menebar Ilmu, Menanam Iman, Membangun Generasi Qur’ani Masa Depan”.
Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam membangun karakter dan akhlak mulia bagi para santri TPQ Al-Ghofur, Senin (20/4).
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 20 hingga 23 April ini, merupakan wujud nyata komitmen PAI UIN Walisongo dan TPQ Al-Ghofur dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam serta pembentukan karakter anak sejak dini.
Ketua Pelaksana Program, Akbar Daffa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan baru sekaligus menjadi bekal kebaikan bagi santri di masa depan.
“Kegiatan ini merupakan langkah kecil dari kepedulian kita dalam berbagi ilmu dan kebaikan. Melalui kebersamaan ini, semoga kita dapat menebarkan nilai-nilai positif serta memberikan manfaat bagi sesama,” tuturnya.
Rois Ali Maksum, S.Pd.I., selaku Kepala TPQ Al-Ghofur, turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama serta dedikasi para mahasiswa.
“Semoga ilmu yang dipraktikkan nanti bisa bermanfaat bagi semuanya, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cinta Al-Qur’an. Semoga program PAI Mengajar ini berjalan dengan sebaik-baiknya dan penuh berkah,” ucapnya.
Dalam program ini, para relawan mahasiswa PAI terjun langsung mengajarkan berbagai materi keagamaan. Sebagai penutup rangkaian kegiatan di hari terakhir, acara diakhiri dengan pemberian hadiah (reward) bagi para santri yang aktif selama mengikuti pembelajaran.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang menyelengarakan diskusi online bertajuk “Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru” Pada Sabtu (07/03).
Pertemuan virtual yang dimulai pukul 14.30 WIB dibuka oleh Akbar Dafa Al Fikri selaku pemandu jalannya acara, diskusi dipimpin oleh Muhammad Amar Akbarudin sebagai moderator dan diskusi diawali dengan pemaparan pengantar dari Fat Maulana untuk membuka arah pembahasan.
Selain pengurus HMJ PAI, forum ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam jaringan Republik Besan dan Forsima PAI Jawa Tengah.
Endy Prima Yusena selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu hingga terselenggarakannya diskusi online. Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi yang terjalin menjadi bukti bahwa kerja sama dan kebersamaan dapat melahirkan kegiatan yang bermanfaat.
“Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak, yang telah mendukung terselenggarakannya kegiatan ini khususnya kepada Republik Besan dan Forsima yang telah berkolaborasi bersama, mensukseskan acara ini. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa melalui kerjasama dan kebersamaan kita dapat menghadirkan kegiatan yang bermanfaat serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk diskusi, bertukar pikiran dan menambah wawasan.”
Ketua umum HMJ PAI, Muhammad Aidil Maghfur dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi online kali ini mengangkat tema yang relevan dan masih hangat diperbincangkan.
“Pada diskusi online siang hari ini kita mengangkat tema yang sangat luar biasa, yang masih hangat diperbincangkan, isu isu yang sangat hangat untuk kita diskusikan dan kita menambah wawasan baru dan ilmu baru nantinya dengan tema ini. Dengan tema Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru.”
Muhammad Dzakil Fikri selaku perwakilan Republik Besan berharap diskusi ini tidak sekedar menjadi ruang bicara biasa, tetapi diharapkan mampu melahirkan gagasan yang bermanfaat.
“Diskusi pada siang hari ini bukanlah diskusi yang hanya sebagai omong-omong biasa, tetapi hasil dari diskusi ini nantinya dapat kita buat dan kita rangkai menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang mana inshaallah nantinya bisa menginspirasi.”
Dilanjutkan sambutan oleh perwakilan dari Forsima PAI Jawa Tengah, Akmal Rizka Wardana mengucapkan terimakasih kepada HMJ PAI UIN Walisongo atas ajakan kolaborasinya.
“Melihat tantangan-tantangan, apakah pendidikan akan ditunjang dengan gizi yang baik atau cukup dengan perbandingan guru yang lebih baik. Sekali lagi dari forsima sangat berterimakasih atas ajakan kolaborasi dari HMJ PAI UIN Walisongo.”
Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan gagasan dari Fat Maulana yang membahas topik Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru. Dalam pemaparannya, Fat Maulana menyampaikan keterkaitan antara aspek gizi dan pendidikan dalam membangun kualitas sumber daya.
“Jika kita berbicara tentang gizi, tentu akan ada 2 aspek yang perlu disebut. Pertama pendekatan kesehatan, pendidikan berkualitas dimulai dari anak yang sehat dan cukup gizi. Apakah ini statment yang dapat kita terima seutuhnya, atau dapat kita setujui? Belum tentu. Karna ada statment kedua yakni pendekatan pendidikan berkualitas dimulai dari guru yang berkompeten dan sistem pembelajaran yang baik. Artinya dua aspek ini bersinggungan secara erat dan tidak bisa dipisahkan , antara gizi dan juga pendidikan. Namun, mana yang lebih diprioritaskan sekarang?.”
Pemantik menjelaskan bahwa stunting dapat dicegah secara efektif pada masa 1000 hari pertama kehidupan atau segera setelah bayi dilahirkan. Ia memperingatkan bahwa kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi pada periode emas tersebut, anak beresiko tinggi mengalami stunting. Oleh karena itu, ia menekankan agar pemerintah memberikan fokus utama pada pemenuhan gizi ini.
Selain persoalan gizi, ia juga menyoroti permasalahan dalam sektor pendidikan, khususnya terkait kualitas dan distribusi guru di Indonesia. Menurutnya meskipun jumlah guru banyak, masalah utama terletak pada rendahnya kualifikasi dan kompetensi. Ia mencatat masih banyak guru yang belum memiliki sertifikasi atau keterampilan spesifik yang dibutuhkan untuk menunjang kualitas pendidikan.
Ia menambahkan bahwa dalam teori pendidikan, guru merupakan faktor yang paling menentukan kualitas pembelajaran. Guru tidak hanya mengajar, tetapi berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta pengembangan kemampuan kritis dan literasi siswa. Merujuk pada berbagai penelitian, ia menegaskan bahwa kualitas guru adalah faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap capaian pembelajaran (learning outcomes), sehingga sektor pendidikan dianggap memiliki peran krusian yang bahkan dimulai sebelum persoalan gizi.
Di akhir pemaparannya, ia menyampaikan pesan bahwa pada dasarnya setiap program akan memberikan manfaat jika dijalankan dengan sistem dan tata kelola yang baik serta tidak merugikan pihak mana pun.
Sebagai penutup, ia mengutip sebuah pernyataan dari Malala Yousafzai serta filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara.
“Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena mampu mengubah dunia, seperti filosofi Ki Hajar Dewantara pula sertiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru, dari ruang belajar yang luas itulah kita membentuk generasi masa depan yang kita bentuk dengan 3A diasah pikirannya untuk mencerdaskan, diasihi hatinya untuk menguatkan dan diasuh kehidupannya untuk menghidupkan.”
Diskusi diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan penuh antusias dari para peserta hingga penutup kegiatan.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan acara IHNA (Ihtifal Nuzulul Qur’an) dengan tema “Relevansi Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan Generasi Muda” pada Sabtu (28/02) bertempat di Aula Dekanat Lantai 3 Kampus 2 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Nuzulul Qur’an dan memperkuat pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an di bulan Ramadan. Kegiatan meliputi Sima’an Bil Ghoib, Talkshow Qur’ani, dan Buka Puasa Bersama. Acara ini dihadiri oleh peserta delegasi kelas dan pengurus HMJ PAI.
Kegiatan diawali dengan Sima’an Bil Ghoib hingga khataman dan doa bersama, kemudian dilanjutkan salat Ashar berjamaah. Sesi talkshow dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum rangkaian sambutan dan pemaparan materi.
Selia Arkhamia selaku Ketua Pelaksana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan IHNA serta berharap kegiatan ini menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di lingkungan PAI.
“Terima kasih kepada seluruh tamu undangan, para hafiz dan hafizah, serta panitia yang telah berkontribusi dalam menyukseskan IHNA ini. Semoga kegiatan ini semakin menumbuhkan kecintaan kita terhadap Al-Qur’an dan melahirkan generasi Qur’ani yang dapat membawa kemajuan bagi Jurusan PAI,” ujarnya.
Aidil Maghfur selaku Ketua HMJ PAI juga menyampaikan apresiasi kepada peserta yang hadir serta mengingatkan pentingnya merelevansikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita tidak boleh terbawa arus, tetapi harus tetap berada di jalan yang benar dengan merelevansikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Ilmu yang tidak dimanfaatkan bagaikan pohon tanpa buah,” ungkapnya.
Ibu Prof. Fihris selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam menekankan pentingnya menjaga diri dan bergaul dengan baik agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif di lingkungan kampus serta menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan memperkuat akhlak.
“Melalui kegiatan ini, saya mengingatkan agar kita semua mampu menjaga diri masing-masing dan tidak mudah terjerumus dalam pergaulan atau tindakan yang merugikan. Momentum Nuzulul Qur’an seharusnya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap berada di jalan yang benar,” tuturnya.
Bapak Ali Imron selaku narasumber menjelaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an perlu diterapkan dalam kehidupan akademik dan sosial agar mahasiswa mampu menjadi pribadi berakhlak mulia dan agen perubahan di masyarakat.
“Penerapan nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an bertujuan membentuk pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan berkontribusi positif. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup, petunjuk, sumber etika, dan landasan moral. Ketika nilai-nilai ini diterapkan, generasi muda dapat menjadi agen of change yang memberi pengaruh baik di masyarakat dan tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Mahasiswa juga harus semangat dalam literasi dan riset penelitian,” jelasnya.
Sesi talkshow ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Ali Imron selaku narasumber, kemudian dilanjutkan dengan penutup oleh pembawa acara. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan salat Magrib berjamaah dan diakhiri dengan buka puasa bersama.
Anggapan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya berkutat di ranah religius berhasil dipatahkan oleh Faldin Fahza Alfaizi. Mahasiswa semester 8 International Class Program (ICP) PAI UIN Walisongo Semarang ini resmi dilantik sebagai Komite Tetap Komunikasi Organisasi dan Go Public Investasi Dalam Negeri dan Investasi Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Depok.
Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Walikota Depok, Supian Suri, S.E., M.M. Pencapaian ini menjadi catatan sejarah tersendiri, mengingat Faldin berhasil menembus struktur organisasi pengusaha papan atas tersebut di tengah kesibukannya menyelesaikan studi.
Mengemban Misi Investasi dan Konektivitas dalam jabatan barunya, Faldin memegang tanggung jawab strategis yang menjadi jembatan antara dunia usaha dan investasi. Berdasarkan tupoksi organisasi, Faldin akan berfokus pada pembangunan konektivitas dengan berbagai lembaga untuk pemanfaatan dana CSR serta menciptakan database potensi peluang investasi usaha di Kota Depok.
Keterlibatan Faldin di Kadin Kota Depok menjadi bukti nyata bahwa kurikulum dan pembinaan di UIN Walisongo mampu mencetak lulusan yang adaptif. Meski berlatar belakang pendidikan agama, Faldin menunjukkan ketangguhan dalam memahami dinamika investasi dan komunikasi organisasi.
Kemandirian dan disiplin yang ia bentuk selama kuliah di kelas International Class Program (ICP) menjadi modal penting dalam menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa tingkat akhir dan fungsionaris organisasi profesional. Seperti halnya tokoh inspiratif kampus lainnya yang mampu menyeimbangkan peran akademik dan sosial, Faldin membuktikan bahwa batasan jurusan bukanlah penghalang untuk berkarya di sektor ekonomi.
Bagi Faldin, kesempatan ini adalah ladang ibadah sekaligus pembuktian kualitas diri. Ia ingin memotivasi rekan-rekannya agar tidak rendah diri dengan latar belakang program studi yang diambil.
“Jadilah insan yang selalu berikhtiar maksimal. Saya membuktikan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang dapat bersaing di dunia usaha, salah satunya dengan bergabung dan dilantik di Kamar Dagang dan Industri Kota Depok,” ungkapnya.
Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi potensi diri di luar batas-batas akademik konvensional demi memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Nazih Sadatul Kahfi, mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Magister (S-2) pada prosesi wisuda yang berlangsung Sabtu, 7 Februari 2026.
Nazih menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Ia menegaskan bahwa sejak awal perkuliahan tidak pernah menjadikan predikat wisudawan terbaik sebagai target utama, melainkan fokus pada proses belajar yang optimal.
“Saat pertama kali mendengar pengumuman sebagai wisudawan terbaik, saya menyambutnya dengan sujud syukur. Perasaan saya campur aduk antara terkejut, bahagia, dan haru. Pencapaian ini merupakan buah dari komitmen dan kesungguhan dalam menjalani seluruh proses perkuliahan,” ungkapnya.
Orang pertama yang ia kabari atas capaian tersebut adalah istri dan orang tua. Menurut Nazih, dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya. Ia menyebut do’a dan dorongan moral dari keluarga sebagai penguat utama dalam menghadapi berbagai tantangan perkuliahan.
Bagi Nazih, gelar Wisudawan Terbaik tidak dimaknai sekadar sebagai capaian angka akademik. Predikat tersebut dipandang sebagai bukti atas dedikasi, kerja keras, serta proses panjang yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Dalam bidang akademik, Nazih menyelesaikan tesis berjudul “Pengembangan Video Animasi 3D dengan Plotagon Story untuk Meningkatkan Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran PAI-BP di SMP.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Media pembelajaran yang inovatif diperlukan agar siswa lebih terlibat aktif, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman,” jelasnya.
Dalam menjalani perkuliahan, Nazih menerapkan manajemen waktu yang teratur dan berorientasi pada proses. Ia mengaku lebih memilih belajar secara konsisten, meskipun pada situasi tertentu harus berhadapan dengan tenggat waktu yang ketat.
Konsep Unity of Sciences yang menjadi visi UIN Walisongo turut memengaruhi pendekatan akademiknya. Dalam penulisan tesis, Nazih memadukan ilmu pendidikan, teknologi, dan nilai-nilai agama sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Selain berprestasi secara akademik, Nazih juga aktif dalam berbagai organisasi selama menempuh studi S-2. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Koordinator Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Bendahara IKA-PMII, Koordinator Pengembangan Organisasi ISNU, serta Relawan Masjid Berdampak Kementerian Agama RI.
Menanggapi anggapan bahwa keterlibatan organisasi dapat menurunkan prestasi akademik, Nazih menilai pandangan tersebut perlu diluruskan.
“Dengan manajemen waktu yang baik, kegiatan akademik dan organisasi dapat berjalan beriringan serta saling mendukung,” tegasnya.
Tak hanya berprestasi di dalam kampus, Nazih memperluas cakrawala keilmuannya melalui program Student Mobility ke Malaysia dan Singapura, serta aktif dalam berbagai konferensi internasional.
Di balik kesuksesan tersebut, ia harus berjuang membagi waktu antara tanggung jawab akademik, amanah sebagai Awardee LPDP-BIB, hingga dedikasinya sebagai marbot masjid. Pengalaman ini membentuk kedisiplinan dan ketahanan pribadinya dalam menjalani peran ganda.
“Prestasi tidak semata-mata diukur dari capaian akademik, tetapi dari sejauh mana ilmu yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya sebagai pesan penutup bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya.
Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) Adakan Talkshow dalam acara Pelantikan Ormawa pada Rabu (28/01/26) di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Kegiatan ini diadakan dalam acara Pelantikan Ormawa yang dipandu oleh Sahrul Himawan S.Pd sebagai moderator dan Faris Balya S.Sos sebagai narasumber. Pembukaan materinya, Faris menjelaskan alasan minat organisasi bagi mahasiswa sekarang itu menurun dan cara mengatasinya.
“Output di organisasi yang tidak jelas itu menjadi salah satu alasan minat berorganisasi sekarang menurun. Oleh karena itu, organisasi masa sekarang harus dibenahi, output di organisasi harus diperjelas, lebih kreatif, dan lebih linier dengan kehidupan kita,” ungkapnya.
Selanjutnya Faris menyampaikan bahwa di organisasi dan di dunia kerja saling berkaitan, kemampuan dan skill yang telah dijalani di organisasi itu sangat berguna di dunia kerja.
“Skill mahasiswa di organisasi itu sangat berguna saat nantinya berada di dunia kerja. Sebab dalam dunia kerja, kemampuan berbicara dan kemampuan leadership adalah salah satu yang terpenting, yang mana keduanya telah dijalani saat berada di organisasi,” jelasnya.
Kemudian Faris mengatakan bahwa fenomena pengangguran lulusan akademis sangat banyak itu bukan salah negara terhadap kita, melainkan kita sendiri yang enggan menghadapi dan lari dari realita.
“Fenomena pengangguran lulusan akademis menjadi sangat banyak di negara kita itu bukan salah negara terhadap kita, melainkan kita sendiri yang enggan menghadapi dan memilih lari dari realita yang ada,” tuturnya.
Pungkasan pemaparannya, Faris memberikan pesan untuk berorganisasi secara profesional, bukan secara kekeluargaaan. Ia serta menjelaskan alasannya.
“Berorganisasilah secara profesional, bukan secara kekeluargaan. Karena dalam keluarga, mencakup kepala keluarga hingga beban keluarga. Maka dari itu, bagi masing-masing anggota organisasi diharuskan bertanggung jawab serta profesional dengan kerjanya,” pungkasnya.
Lalu dilanjutkan sesi tanya jawab dan ditutup dengan foto bersama.
Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) Selenggarakan Pelantikan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) pada Rabu (28/01/26) di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Acara ini mengangkat tema “Organisasi Mahasiswa di Persimpangan Jalan: Antara Kehilangan Diskursus dan Pudarnya Minat Berorganisasi”, yang dihadiri oleh Dekan, Wakil Dekan, Jajaran Dosen FTIK, serta seluruh anggota ORMAWA FTIK yang meliputi Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).
Memasuki prosesi pembaiatan, Prof. Dr. Fatah Syukur M.Ag selaku Dekan FTIK telah mengukuhkan dan mengesahkan seluruh pengurus ORMAWA FTIK dengan pembacaan ikrar dan kesiapan dalam menjalankan amanah. Ketua DEMA FTIK, Gilang Dzaky Mubarak menyampaikan telah terjadi pergeseran paradigma organisasi yang dipahami sebatas pengembangan kemampuan, Ia mengajak seluruh ORMAWA FTIK untuk kembalikan marwah Fakultas Tarbiyah yang bereorentasi sebagai Fakultas Pendidikan.
“Organisasi mahasiswa saat ini telah terjadi pergeseran paradigma, kini berorganisasi hanya dipahami sebatas pengembangan kemampuan belaka. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh Ormawa FTIK untuk kembalikan marwah Fakultas Tarbiyah yang beriorentasi sebagai fakultas pendidikan, intelektualitas, dan nilai-nilai keilmuan,” ungkapnya.
Ketua SEMA FTIK, Alauddin Nabil An-Nabhan menyampaikan tantangan organisasi mahasiswa saat ini bukan hanya program kerja, tetapi keberanian menjaga nilai, jujur saat salah, berani terbuka saat dikritik, serta berani bertindak kepada mahasiswa meski tidak membuat kita nyaman.
“Tantangan organisasi mahasiswa kali ini bukan hanya perihal program kerja, akan tetapi keberanian menjaga nilai, berani jujur saat salah, berani terbuka saat dikritik, dan berani bertindak sesuai hukum kepada mahasiswa meski itu tidak selalu membuat kita nyaman” ucapnya.
Selanjutnya Dekan FTIK, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag telah mengutip hadist Nabi untuk menekankan pentingnya bagi seluruh ORMAWA yang telah dilantik senantiasa belajar kepemimpinan hingga manajemen waktu yang baik.
“Kehidupan ini, kata Rasulullah, كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. Kalian semua ini adalah pemimpin di level masing-masing, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Kata kunci seorang pemimpin adalah ketika dia bisa memengaruhi orang lain dalam hal kebaikan,” jelasnya.
Beliau juga menegaskan bahwa kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi dari kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa tidak hanya diukur dari jabatan, namun dari kemampuan mengelola diri, mengambil keputusan, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” tuturnya.
Di akhir sambutan, beliau menyampaikan pesan tentang pentingnya ideologi dan akidah sebagai fondasi utama bagi seorang aktivis.
“ Menjadi teladan ideologi dan akidah, aktivis tidak hanya pintar ngomong, aktivis jangan hanya pintar action, tetapi juga perhatikan shalatnya,” pungkasnya.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Adakan Materi Kepemimpinan dalam acara GAFMA pada Sabtu (1/11/25) di Wisata Tirta Nusantara Kendal.
Kegiatan ini diadakan dalam acara GAFMA PAI 2025 yang diikuti oleh para Mahasiswa PAI 2025.
Kegiatan ini dipandu oleh Rasya sebagai moderator dan Faza Nasrullah sebagai narasumber.
Dalam pembukaan materi, Faza Nasrullah menyampaikan perbedaan pemimpin dan kepemimpinan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai sifat kepemimpinan dan tidak semua pemimpin mempunyai sifat itu.
“Seorang pemimpin dan kepemimpinan itu berbeda, pemimpin harus mempunyai sifat kepemimpinan dan tidak semua pemimpin mempunyai sifat itu,” jelasnya.
Selanjutnya Faza Nasrullah menjelaskan bahwa pemimpin itu harus bisa menerima masukan, aspirasi, toleransi, dan pemaaf. karena dia menjadi panutan, maka harus bisa bisa menjadi harapan dan contoh yang baik bagi semua.
“Menjadi seorang pemimpin itu harus bisa menerima masukan, aspirasi, toleransi, empati, dan bisa menjadi pemaaf bagi sesama. Sebab pemimpin itu panutan, maka harus bisa menjadi harapan dan contoh yang baik bagi anggotanya,” ungkapnya.
Kemudian pungkasan pemaparannya, Faza Nasrulllah memberikan pesan untuk terus memberi manfaat walaupun sedikit serta tanamkan kejujuran, sebab itu yang dibutuhkan zaman sekarang.
“Dimanapun kalian berada, tetaplah menebar manfaat kepada sesama walaupun itu sedikit dan tanamkan kejujuran, sebab itu yang dibutuhkan pada zaman sekarang,” pungkasnya.
Lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan ditutup dengan sesi foto bersama.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Selenggarakan Gathering Fun Mahasiswa (GAFMA) PAI 2025 pada Sabtu (1/11/25) di Wisata Tirta Nusantara Kendal.
GAFMA kali ini mengangkat tema “Stronger Together, Brighter Forever” yang dihadiri oleh seluruh pengurus HMJ PAI dan para mahasiswa PAI 2025.
Ketua Panitia, Himma Marwah Taher mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengsukseskan acara dan menyampaikan bahwa gafma bukan sekedar agenda tahunan, akan tetapi awal langkah bagi mahasiswa PAI.
“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkenan mengsukseskan acara ini. GAFMA bukanlah sekedar agenda tahunan, akan tetapi langkah perjalanan panjang bagi kalian dan momen bagi mahasiswa PAI,” ucapnya.
Ketua Umum HMJ PAI, Ahmad Shakib menyampaikan bahwa tujuan diadakan GAFMA ini untuk saling mengenal dan berbagi keindahan serta berharap semoga acara ini berjalan lancar dan diridhoi oleh Allah Swt.
“Kegiatan GAFMA ini bertujuan agar kita saling mengenal dan berbagi keindahan. Saya berharap semoga acara ini berjalan lancar dan diridhoi oleh Allah Swt,” tuturnya.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Bersama Komunitas Sahabat Peduli Mengadakan acara Bakti Sosial pada Minggu (26/10) di Panti Asuhan Safinatun Najah Mijen, Semarang.
Naufal Zakia Mochtar, selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih serta menyampaikan harapan diadakannya bakti sosial dapat membangun tali silaturrahmi antar mahasiswa dan masyarakat
“Saya sangat berterima kasih kepada bapak kepala panti yang telah mempersilakan kami untuk mengadakan acara bakti sosial kali ini. Harapan saya dengan diadakannya acara ini dapat membangun tali silaturrahmi antar mahasiswa dan Masyarakat,” ungkapnya.
Sambutan selanjutnya oleh Ketua Umum HMJ PAI yang diwakilkan oleh Wakil Ketua Umum, Nur Fahni. Ia berpesan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk sesama.
“Saya teringat salah satu kutipan hadis yang artinya sebaik-baik manusia ialah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Kami sebagai mahasiswa pun memerlukan recharge setelah Ujian Tengah Semester. Kami merasa dengan bertemu adik-adk semua dapat membangkitkan energi kami,” tuturnya.
Silvi Laelaturrohmah, Ketua Komunitas Sahabat Peduli menyampaikan harapannya agar acara ini dapat menjadi bekal belajar bersama.
“Dengan diadakannya acara ini, semoga kita dapat belajar bersama. Kita ambil baiknya dan buang buruknya,” ujarnya.
Bapak Kepala Panti Asuhan, Nur Ihsan, S.Pd. memberikan sambutan penutup sekaligus do’a agar segala hajat, keinginan dan cita-cita dapat dikabulkan olehNya.
Acara dilanjut dengan membuat ice cream bersama kemudian kajian oleh Anwar, salah satu pengurus HMJ PAI periode 2025. Dalam kajiannya, ia menceritakan kisah inspiratif sahabat pada masa nabi, Sya’ban yang istiqomah sholat Subuh berjamaah semasa hidupnya. Acara diakhiri dengan penyerahan donasi dan sesi foto Bersama.
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Selenggarakan Forum Aspirasi Mahasiswa (FASMA) PAI pada Jumat (24/10/25) di Aula Dekanat Lantai 3 UIN Walisongo Semarang.
Acara kali ini mengangkat tema “Kuatkan Aspirasi, Suarakan Perubahan Untuk Kemajuan Jurusan PAI” yang dihadiri oleh seluruh pengurus HMJ, para delegasi Mahasiswa PAI, serta Ketua Jurusan.
Acara dibuka oleh moderator yaitu Firda Rahmatun Nuzula, salah satu anggota HMJ PAI UIN Walisongo, kemudian disambung dengan kegiatan inti yaitu penyampaian aspirasi oleh para mahasiswa yang hadir.
“Terkait Gedung K yang keadaannya semakin buruk bagi mahasiswa dan fasilitas yang kurang memadai itu bagaimana?,” tanya mahasiswa.
Ketua Jurusan PAI, Dr. Fihris M.Ag. menanggapi bahwa dengan kebijakan yang ada, Gedung K sedang tahap renovasi, dan jika ada fasilitas yang kurang lengkap, bisa mengajukan dengan surat permohonan.
“Dengan kebijakan yang ada, sekarang Gedung K dalam tahap renovasi, tinggal tunggu waktunya jadi saja. Jika ada fasilitas yang kurang lengkap bisa mengajukan surat permohonan perlengkapan fasilitas lewat Ketua HMJ,” jawabnya.
“Toleransi terkait batas keterlambatan bagi mahasiswa jika dibutuhkan perjalanan dari kampus 2 ke kampus 3, dan jika ada dosen yang terlambat itu bagaimana?,” ucap mahasiswa.
Ketua Jurusan, Dr. Fihris M.Ag. menanggapi jika memang dibutuhkan waktu perjalanan maka perlu adanya komunikasi dengan dosen, dan dosen tersebut salah bila terlambat tanpa adanya konfirmasi.
“Jika memang dibutuhkan waktu perjalanan, bisa dikomunikasikan kepada dosen terlebih dahulu, dan jika ada dosen yang terlambat tanpa mengonfirmasi, itu yang bersalah,” jawabnya.
Kemudian Dr. Fihris M.Ag. menyampaikan bahwasanya jika terdapat aspirasi dari para Mahasiswa PAI, dapat disampaikan dengan jelas dan konkrit.
“Kalau ada aspirasi dari para Mahasiswa PAI, langsung sampaikan ke saya saja, tetapi harus jelas, maksudnya harus dengan bukti, bukan “katanya” , pungkasnya.
Kemudian acara ditutup dengan dokumentasi bersama.