HMJ PAI Gelar Acara IHNA (Ihtifal Nuzulul Qur’an) dan Talk Show Qur’ani serta Buka Bersama dengan Mahasiswa PAI UIN Walisongo Semarang

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan acara IHNA (Ihtifal Nuzulul Qur’an) dengan tema “Relevansi Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan Generasi Muda” pada Sabtu (28/02) bertempat di Aula Dekanat Lantai 3 Kampus 2 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Nuzulul Qur’an dan memperkuat pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an di bulan Ramadan. Kegiatan meliputi Sima’an Bil GhoibTalkshow Qur’ani, dan Buka Puasa Bersama. Acara ini dihadiri oleh peserta delegasi kelas dan pengurus HMJ PAI. 

Kegiatan diawali dengan Sima’an Bil Ghoib hingga khataman dan doa bersama, kemudian dilanjutkan salat Ashar berjamaah. Sesi talkshow dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum rangkaian sambutan dan pemaparan materi.

Selia Arkhamia selaku Ketua Pelaksana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan IHNA serta berharap kegiatan ini menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di lingkungan PAI.

“Terima kasih kepada seluruh tamu undangan, para hafiz dan hafizah, serta panitia yang telah berkontribusi dalam menyukseskan IHNA ini. Semoga kegiatan ini semakin menumbuhkan kecintaan kita terhadap Al-Qur’an dan melahirkan generasi Qur’ani yang dapat membawa kemajuan bagi Jurusan PAI,” ujarnya.

Aidil Maghfur selaku Ketua HMJ PAI juga menyampaikan apresiasi kepada peserta yang hadir serta mengingatkan pentingnya merelevansikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita tidak boleh terbawa arus, tetapi harus tetap berada di jalan yang benar dengan merelevansikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Ilmu yang tidak dimanfaatkan bagaikan pohon tanpa buah,” ungkapnya.

Ibu Prof. Fihris selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam menekankan pentingnya menjaga diri dan bergaul dengan baik agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif di lingkungan kampus serta menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan memperkuat akhlak.

“Melalui kegiatan ini, saya mengingatkan agar kita semua mampu menjaga diri masing-masing dan tidak mudah terjerumus dalam pergaulan atau tindakan yang merugikan. Momentum Nuzulul Qur’an seharusnya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap berada di jalan yang benar,” tuturnya.

Bapak Ali Imron selaku narasumber menjelaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an perlu diterapkan dalam kehidupan akademik dan sosial agar mahasiswa mampu menjadi pribadi berakhlak mulia dan agen perubahan di masyarakat.

“Penerapan nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an bertujuan membentuk pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan berkontribusi positif. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup, petunjuk, sumber etika, dan landasan moral. Ketika nilai-nilai ini diterapkan, generasi muda dapat menjadi agen of change yang memberi pengaruh baik di masyarakat dan tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Mahasiswa juga harus semangat dalam literasi dan riset penelitian,” jelasnya.

Sesi talkshow ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Ali Imron selaku narasumber, kemudian dilanjutkan dengan penutup oleh pembawa acara. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan salat Magrib berjamaah dan diakhiri dengan buka puasa bersama.

Penulis: Alan Tsalits Kholifatustsani

Dobrak Stigma, Mahasiswa PAI UIN Walisongo Faldin Fahza Dilantik Jadi Komite Strategis Kadin Kota Depok

Anggapan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya berkutat di ranah religius berhasil dipatahkan oleh Faldin Fahza Alfaizi. Mahasiswa semester 8 International Class Program (ICP) PAI UIN Walisongo Semarang ini resmi dilantik sebagai Komite Tetap Komunikasi Organisasi dan Go Public Investasi Dalam Negeri dan Investasi Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Depok.

Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Walikota Depok, Supian Suri, S.E., M.M. Pencapaian ini menjadi catatan sejarah tersendiri, mengingat Faldin berhasil menembus struktur organisasi pengusaha papan atas tersebut di tengah kesibukannya menyelesaikan studi.

Mengemban Misi Investasi dan Konektivitas dalam jabatan barunya, Faldin memegang tanggung jawab strategis yang menjadi jembatan antara dunia usaha dan investasi. Berdasarkan tupoksi organisasi, Faldin akan berfokus pada pembangunan konektivitas dengan berbagai lembaga untuk pemanfaatan dana CSR serta menciptakan database potensi peluang investasi usaha di Kota Depok.

Keterlibatan Faldin di Kadin Kota Depok menjadi bukti nyata bahwa kurikulum dan pembinaan di UIN Walisongo mampu mencetak lulusan yang adaptif. Meski berlatar belakang pendidikan agama, Faldin menunjukkan ketangguhan dalam memahami dinamika investasi dan komunikasi organisasi.

Kemandirian dan disiplin yang ia bentuk selama kuliah di kelas International Class Program (ICP) menjadi modal penting dalam menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa tingkat akhir dan fungsionaris organisasi profesional. Seperti halnya tokoh inspiratif kampus lainnya yang mampu menyeimbangkan peran akademik dan sosial, Faldin membuktikan bahwa batasan jurusan bukanlah penghalang untuk berkarya di sektor ekonomi.

Bagi Faldin, kesempatan ini adalah ladang ibadah sekaligus pembuktian kualitas diri. Ia ingin memotivasi rekan-rekannya agar tidak rendah diri dengan latar belakang program studi yang diambil.

“Jadilah insan yang selalu berikhtiar maksimal. Saya membuktikan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang dapat bersaing di dunia usaha, salah satunya dengan bergabung dan dilantik di Kamar Dagang dan Industri Kota Depok,” ungkapnya.

Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi potensi diri di luar batas-batas akademik konvensional demi memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Penulis: Lana Husnunnihayah

Organisasi dan Prestasi Akademik Berjalan Selaras, Nazih Sadatul Kahfi Raih Wisudawan Terbaik S2 FTIK

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Nazih Sadatul Kahfi, mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Magister (S-2) pada prosesi wisuda yang berlangsung Sabtu, 7 Februari 2026.

Nazih menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Ia menegaskan bahwa sejak awal perkuliahan tidak pernah menjadikan predikat wisudawan terbaik sebagai target utama, melainkan fokus pada proses belajar yang optimal.

“Saat pertama kali mendengar pengumuman sebagai wisudawan terbaik, saya menyambutnya dengan sujud syukur. Perasaan saya campur aduk antara terkejut, bahagia, dan haru. Pencapaian ini merupakan buah dari komitmen dan kesungguhan dalam menjalani seluruh proses perkuliahan,” ungkapnya.

Orang pertama yang ia kabari atas capaian tersebut adalah istri dan orang tua. Menurut Nazih, dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya. Ia menyebut do’a dan dorongan moral dari keluarga sebagai penguat utama dalam menghadapi berbagai tantangan perkuliahan.

Bagi Nazih, gelar Wisudawan Terbaik tidak dimaknai sekadar sebagai capaian angka akademik. Predikat tersebut dipandang sebagai bukti atas dedikasi, kerja keras, serta proses panjang yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Dalam bidang akademik, Nazih menyelesaikan tesis berjudul “Pengembangan Video Animasi 3D dengan Plotagon Story untuk Meningkatkan Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran PAI-BP di SMP.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Media pembelajaran yang inovatif diperlukan agar siswa lebih terlibat aktif, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman,”  jelasnya.

Dalam menjalani perkuliahan, Nazih menerapkan manajemen waktu yang teratur dan berorientasi pada proses. Ia mengaku lebih memilih belajar secara konsisten, meskipun pada situasi tertentu harus berhadapan dengan tenggat waktu yang ketat.

Konsep Unity of Sciences yang menjadi visi UIN Walisongo turut memengaruhi pendekatan akademiknya. Dalam penulisan tesis, Nazih memadukan ilmu pendidikan, teknologi, dan nilai-nilai agama sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.

Selain berprestasi secara akademik, Nazih juga aktif dalam berbagai organisasi selama menempuh studi S-2. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Koordinator Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Bendahara IKA-PMII, Koordinator Pengembangan Organisasi ISNU, serta Relawan Masjid Berdampak Kementerian Agama RI.

Menanggapi anggapan bahwa keterlibatan organisasi dapat menurunkan prestasi akademik, Nazih menilai pandangan tersebut perlu diluruskan.

“Dengan manajemen waktu yang baik, kegiatan akademik dan organisasi dapat berjalan beriringan serta saling mendukung,” tegasnya.

Tak hanya berprestasi di dalam kampus, Nazih memperluas cakrawala keilmuannya melalui program Student Mobility ke Malaysia dan Singapura, serta aktif dalam berbagai konferensi internasional.

​Di balik kesuksesan tersebut, ia harus berjuang membagi waktu antara tanggung jawab akademik, amanah sebagai Awardee LPDP-BIB, hingga dedikasinya sebagai marbot masjid. Pengalaman ini membentuk kedisiplinan dan ketahanan pribadinya dalam menjalani peran ganda.

“Prestasi tidak semata-mata diukur dari capaian akademik, tetapi dari sejauh mana ilmu yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya sebagai pesan penutup bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Penulis: Alan Tsalits Kholifatustsani