Bandung — Zulaikhah, dosen sekaligus peneliti dari UIN Walisongo Semarang, tampil sebagai presenter dalam ajang Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang digelar 14–16 Juli 2026 di Bandung. Ia memaparkan hasil risetnya yang berjudul “Beyond Knowledge Transmission: How Contextual and Differentiated Learning Promotes Critical Thinking in Islamic Primary Religious Education”.
Dalam paparannya, Zulaikhah menyoroti bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di banyak sekolah dasar masih didominasi pendekatan berpusat pada guru dan hafalan konsep-konsep keagamaan, sehingga siswa memiliki ruang terbatas untuk bertanya, berdiskusi, menganalisis, dan mengambil keputusan etis secara mandiri. Padahal, pendidikan abad ke-21 menuntut penguatan kemampuan berpikir kritis sejalan dengan penguasaan pengetahuan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka embedded mixed methods, dilakukan di dua madrasah, yaitu MI Nurul Islam dan MI Al Khoiriyyah 02 Semarang. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, analisis dokumen, dan hasil karya belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan metode Reflective Thematic Analysis (Braun & Clarke, 2021).
Temuan Utama
Hasil riset mengidentifikasi empat mekanisme pedagogis yang saling terkait dan bermuara pada apa yang disebut Zulaikhah sebagai “Reflective Moral Agency” — kemampuan siswa mengintegrasikan penalaran analitis dengan prinsip moral Islam dalam pengambilan keputusan.
Studi ini juga menawarkan kontribusi teoretis baru, di antaranya memaknai ulang Contextual Learning sebagai Epistemic Entry Point dan Differentiated Learning sebagai bentuk Epistemic Equity yang memberi kesempatan setara bagi siswa untuk berpikir kritis.
“Moving beyond knowledge transmission requires learning environments where authentic experiences, differentiated participation, dialogic inquiry, and Islamic values work together to cultivate critical thinking and reflective moral agency,” demikian salah satu simpulan utama yang disampaikan dalam presentasi tersebut.
Presentasi ini menjadi salah satu kontribusi ilmiah UIN Walisongo Semarang dalam forum AICIRE 2026, sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran agama Islam yang lebih kontekstual, adil, dan berorientasi pada penguatan berpikir kritis siswa sejak jenjang pendidikan dasar.

