UIN Walisongo Semarang Sabet Gelar Top National Recognition of PAI Study Program di AICIRE 2026

Bandung — Kabar membanggakan datang dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang. Program studi ini dinobatkan sebagai “Top National Recognition of PAI Study Program” pada gelaran Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang diselenggarakan pada 14–16 Juli 2026 di Kota Bandung.

Pengakuan tersebut dituangkan dalam Certificate of Appreciation bernomor PPPAII/SERT/AICIRE/VII/2026/002, yang diserahkan oleh Perkumpulan Prodi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) bersama mitra penyelenggaranya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Penandatanganan sertifikat dilakukan langsung oleh Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si., selaku Presiden PPPAII.

Ajang AICIRE 2026 sendiri mengangkat tema besar “Transforming Islamic Religious Education for National Quality and Global Competitiveness”, dan pelaksanaannya bersamaan dengan Musyawarah Nasional (Munas) PPPAI Indonesia 2026. Sederet akademisi tampil sebagai pembicara dalam forum ini, antara lain:

  • Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Rektor UPI, yang membuka acara
  • Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si., Presiden PPPAII, sebagai pembicara kunci
  • Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., Direktur Diktis Kemenag, sebagai pembicara kunci
  • Prof. Dr. Muhamad Ali dari University of California, Amerika Serikat
  • Prof. Dr. Imam Mohammad Dawod dari Suez Canal University, Mesir
  • Prof. Dr. Udin Supriadi, M.Pd., dari Universitas Pendidikan Indonesia

Diraihnya predikat Top National Recognition ini mempertegas eksistensi Prodi PAI UIN Walisongo Semarang sebagai salah satu program studi pendidikan agama Islam yang unggul dan diperhitungkan di tingkat nasional.

Dosen UIN Walisongo Presentasikan Riset Pembelajaran Kritis PAI di AICIRE 2026

Bandung — Zulaikhah, dosen sekaligus peneliti dari UIN Walisongo Semarang, tampil sebagai presenter dalam ajang Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang digelar 14–16 Juli 2026 di Bandung. Ia memaparkan hasil risetnya yang berjudul “Beyond Knowledge Transmission: How Contextual and Differentiated Learning Promotes Critical Thinking in Islamic Primary Religious Education”.

Dalam paparannya, Zulaikhah menyoroti bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di banyak sekolah dasar masih didominasi pendekatan berpusat pada guru dan hafalan konsep-konsep keagamaan, sehingga siswa memiliki ruang terbatas untuk bertanya, berdiskusi, menganalisis, dan mengambil keputusan etis secara mandiri. Padahal, pendidikan abad ke-21 menuntut penguatan kemampuan berpikir kritis sejalan dengan penguasaan pengetahuan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka embedded mixed methods, dilakukan di dua madrasah, yaitu MI Nurul Islam dan MI Al Khoiriyyah 02 Semarang. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, analisis dokumen, dan hasil karya belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan metode Reflective Thematic Analysis (Braun & Clarke, 2021).

Temuan Utama

Hasil riset mengidentifikasi empat mekanisme pedagogis yang saling terkait dan bermuara pada apa yang disebut Zulaikhah sebagai “Reflective Moral Agency” — kemampuan siswa mengintegrasikan penalaran analitis dengan prinsip moral Islam dalam pengambilan keputusan.

Studi ini juga menawarkan kontribusi teoretis baru, di antaranya memaknai ulang Contextual Learning sebagai Epistemic Entry Point dan Differentiated Learning sebagai bentuk Epistemic Equity yang memberi kesempatan setara bagi siswa untuk berpikir kritis.

Moving beyond knowledge transmission requires learning environments where authentic experiences, differentiated participation, dialogic inquiry, and Islamic values work together to cultivate critical thinking and reflective moral agency,” demikian salah satu simpulan utama yang disampaikan dalam presentasi tersebut.

Presentasi ini menjadi salah satu kontribusi ilmiah UIN Walisongo Semarang dalam forum AICIRE 2026, sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran agama Islam yang lebih kontekstual, adil, dan berorientasi pada penguatan berpikir kritis siswa sejak jenjang pendidikan dasar.

Prodi PAI UIN Walisongo Semarang Raih Top International Recognition di AICIRE 2026

Bandung — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang meraih penghargaan “Top International Recognition of PAI Study Program” dalam ajang Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang berlangsung pada 14–16 Juli 2026 di Bandung.

Penghargaan berupa Certificate of Appreciation dengan nomor PPPAII/SERT/AICIRE/VII/2026/002 ini diberikan oleh Perkumpulan Prodi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) yang bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai penyelenggara. Sertifikat tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden PPPAII, Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si.

AICIRE 2026 mengusung tema “Transforming Islamic Religious Education for National Quality and Global Competitiveness”, dan digelar beriringan dengan Musyawarah Nasional (Munas) PPPAI Indonesia 2026. Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, di antaranya:

  • Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. — Rektor UPI (opening speaker)
  • Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si. — Presiden PPPAII (keynote speaker)
  • Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. — Direktur Diktis Kemenag (keynote speaker)
  • Prof. Dr. Muhamad Ali — University of California, Amerika Serikat (speaker)
  • Prof. Dr. Imam Mohammad Dawod — Suez Canal University, Mesir (speaker)
  • Prof. Dr. Udin Supriadi, M.Pd. — Universitas Pendidikan Indonesia (speaker)

Predikat Top International Recognition ini menjadi bentuk pengakuan atas kiprah Prodi PAI UIN Walisongo Semarang di tingkat internasional, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu program studi pendidikan agama Islam terkemuka di Indonesia.

FTIK Perkuat Mutu Pendidikan Global melalui Asesmen Internasional ACQUIN Cluster 3 pada Tiga Program Studi

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menjalankan langkah strategis untuk memperkuat mutu pendidikan tinggi dengan mengikutsertakan tiga program studi dalam asesmen internasional ACQUIN Cluster 3 pada 13–14 Juli 2026. Program studi yang terlibat adalah S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan S-1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Asesmen ini mengevaluasi berbagai aspek seperti tata kelola, mutu akademik, proses pembelajaran, dan layanan pendidikan sesuai standar global.

Bertempat di Laboratorium Komputer (LabCom) PTIPD, proses asesmen mempertemukan asesor ACQUIN dengan segenap elemen penting FTIK dan universitas, termasuk pimpinan institusi, pengelola fakultas dan prodi, tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, serta alumni. Kegiatan ini bukan sekadar memeriksa kelengkapan dokumen akademik, melainkan juga menjadi momentum refleksi atas efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan dampaknya pada mutu lulusan.

Bagi FTIK, partisipasi dalam asesmen internasional ini merupakan bagian dari taktik penguatan mutu akademik sekaligus upaya mewujudkan internasionalisasi pendidikan keguruan. Fakultas meyakini bahwa standar global tidak hanya berfungsi sebagai tolok ukur pencapaian, tetapi juga sebagai alat untuk menyempurnakan sistem, memperkokoh tata kelola, dan menjamin lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan tuntutan zaman.

FTIK Ikut Sertakan Tiga Prodi Pendidikan dalam Penilaian Mutu Bertaraf Internasional
Keikutsertaan FTIK dalam ACQUIN Cluster 3 menjadi tonggak penting untuk menunjukkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di tiga program studi andalannya, yaitu S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 PGMI, dan S-1 PIAUD.

Ketiga prodi ini memegang peran vital dalam mencetak calon pendidik profesional di berbagai tingkat. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada pengembangan kompetensi calon guru bahasa yang tanggap terhadap kebutuhan pendidikan global. Prodi PGMI menitikberatkan pada penguatan tenaga pendidik sekolah dasar dengan landasan akademik dan nilai-nilai keislaman yang kokoh, sementara Prodi PIAUD bertujuan melahirkan pendidik anak usia dini dengan kompetensi pedagogik dan pemahaman perkembangan anak yang holistik.

Dekan FTIK, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag, menekankan bahwa keterlibatan ketiga prodi ini dalam asesmen ACQUIN adalah wujud komitmen fakultas untuk terus mengangkat kualitas pendidikan dan memperkuat daya saing di kancah internasional.

Beliau memandang asesmen internasional bukan semata sebagai evaluasi atas capaian, melainkan juga peluang untuk mendapatkan masukan yang membangun bagi kemajuan fakultas dan prodi di masa depan. FTIK berharap proses ini dapat memantapkan budaya mutu, meningkatkan kualitas pelayanan akademik, serta memacu inovasi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap dinamika global.

“Asesmen internasional adalah wahana pembelajaran bagi institusi untuk mengukur posisinya, membenahi kekurangan, dan mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki. Harapan kami, ketiga prodi yang mengikuti proses ini dapat semakin membuktikan kualitas akademiknya serta menghasilkan lulusan pendidikan yang unggul dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” begitu inti harapan Dekan FTIK.

Dalam asesmen ini, para asesor ACQUIN mendalami beragam aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari strategi pengelolaan fakultas, penerapan kurikulum, sistem penjaminan mutu, kualitas pengajaran, kompetensi dosen, layanan mahasiswa, hingga masukan alumni yang memberikan gambaran tentang relevansi pendidikan.

Dialog Multipihak Buktikan Penerapan Nyata Budaya Mutu
Hari pertama asesmen, Senin 13 Juli 2026, diawali dengan gladi teknis dan tes Zoom individu oleh tim PTIPD serta Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) untuk memastikan seluruh perangkat dan sistem komunikasi berfungsi dengan baik.

Evaluasi kemudian dimulai melalui Putaran Diskusi 1: Manajemen Universitas yang melibatkan Rektor beserta jajaran manajemen. Diskusi ini menjadi panggung untuk memaparkan arah kebijakan, strategi pengembangan universitas, dan komitmen pimpinan dalam membangun sistem pendidikan berbasis mutu.

Rangkaian berlanjut ke Putaran Diskusi 2: Manajerial Fakultas dan Program Studi yang melibatkan Dekan, unsur fakultas, serta para ketua prodi. Pada sesi ini, FTIK memaparkan beragam aspek pengelolaan akademik, meliputi pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, pengembangan SDM, hingga implementasi sistem penjaminan mutu di tingkat fakultas dan prodi.

Sesi ketiga melibatkan Staf Administrasi dari para kepala biro dan timnya. Sudut pandang tenaga kependidikan menjadi krusial untuk melihat bagaimana sistem administrasi menopang kualitas layanan akademik bagi mahasiswa dan dosen.

Di hari kedua, Selasa 14 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Tur Kampus Langsung yang dipandu oleh moderator fakultas bersama videografer dari fakultas dan prodi. Kegiatan ini menyuguhkan gambaran riil lingkungan akademik dan sarana pendukung pembelajaran.

Asesmen kemudian berlanjut pada Putaran Diskusi Alumni dan Mahasiswa serta Putaran Diskusi Program Studi dan Dosen. Kehadiran mahasiswa, alumni, dosen, dan pengelola prodi menyajikan perspektif yang lebih utuh tentang pengalaman akademik, kualitas perkuliahan, relevansi kompetensi lulusan, serta tantangan dalam mengembangkan pendidikan.

Seluruh proses ini terselenggara berkat koordinasi erat antara FTIK, program studi, PTIPD, dan LPM. Semua peserta mematuhi standar asesmen internasional, mencakup kesiapan perangkat, ketepatan waktu, penataan komunikasi selama sesi daring, dan ketersediaan dokumen pendukung.

ACQUIN Sebagai Katalis Transformasi Mutu dan Internasionalisasi FTIK
Penyelenggaraan ACQUIN Cluster 3 menandai perjalanan FTIK dalam menanamkan budaya mutu yang berkesinambungan. Proses asesmen ini membuktikan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak hanya bertumpu pada dokumen akademik, tetapi juga pada praktik nyata yang menyertakan seluruh komunitas akademik.

Partisipasi aktif pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni menegaskan bahwa mutu pendidikan adalah buah dari kerja kolaboratif. Setiap elemen memiliki peran dalam menjamin bahwa proses pendidikan mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing.

Harapan Dekan FTIK kembali menegaskan pentingnya menjadikan hasil asesmen sebagai pijakan untuk pengembangan yang berkelanjutan. Masukan dari para asesor diharapkan dapat menjadi acuan strategis untuk memperkuat sistem akademik, meningkatkan kualitas layanan, dan memperlebar jaringan internasional.

Lebih dari sekadar capaian akreditasi, ACQUIN Cluster 3 menjadi cermin bahwa pendidikan keguruan mengemban tanggung jawab besar dalam membangun masa depan bangsa. Kualitas guru yang dihasilkan lembaga pendidikan tinggi akan sangat menentukan kualitas generasi penerus yang mereka bimbing.

Dengan komitmen tinggi terhadap evaluasi, inovasi, dan perbaikan berkelanjutan, FTIK membuktikan bahwa internasionalisasi pendidikan bukan sekadar meraih pengakuan global, melainkan membentuk institusi yang terus belajar, berkembang, dan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat luas.

Pakar Lintas Negara Kupas Tuntas Etika Digital, FTIK UIN Walisongo Sukses Gelar Seminar Internasional

FTIK UIN Walisongo Online, Semarang – Merespons pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang menggelar Seminar Internasional bertajuk “Digital Ethics and Islamic Education: Shaping Responsible Generations in the Era of Artificial Intelligence” pada Kamis, 18 Juni 2026.

Berlangsung dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, acara ini diselenggarakan secara hibrida, menggabungkan partisipasi langsung di Ruang Teater Gedung General Library & ICT Center UIN Walisongo Semarang dengan akses daring melalui platform virtual. Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai penjuru dunia.

Mengarahkan Etika Digital di Era AI
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., dan Dekan FTIK UIN Walisongo, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., hadir sebagai pembicara kunci (Keynote Speakers). Keduanya menyampaikan pandangan strategis tentang bagaimana pendidikan Islam semestinya menyikapi disrupsi teknologi masa kini.

Dalam paparannya, Rektor UIN Walisongo menekankan bahwa AI merupakan perangkat yang revolusioner, tetapi daya guna dan dampaknya sepenuhnya ditentukan oleh nilai-nilai moral penggunanya.

“Kecerdasan buatan menawarkan kemudahan luar biasa bagi dunia akademik. Namun, AI tidak dibekali spiritualitas maupun kompas moral. Di sinilah letak peran vital Pendidikan Islam, yakni menanamkan etika digital yang berlandaskan nilai-nilai profetik, sehingga generasi muda kita tak hanya terampil secara teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dan akhlak mulia,” tegas Prof. Musahadi.

Sejalan dengan hal itu, Dekan FTIK UIN Walisongo menekankan urgensi transformasi kurikulum pendidikan untuk menjawab tantangan era tanpa melepaskan akar autentisitas keilmuan Islam.

“FTIK UIN Walisongo memiliki komitmen kuat untuk mencetak pendidik masa depan yang adaptif. Melalui forum ini, kita menyusun strategi pembelajaran di mana AI diposisikan sebagai rekan dalam mempercepat proses kognitif, sementara pembinaan akhlak tetap menjadi fondasi utama yang tak tergantikan oleh mesin algoritma apa pun,” ungkap Prof. Abdul Rohman.

Kolaborasi Global Bersama Pembicara Mancanegara
Untuk mengkaji tema tersebut secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang, seminar ini mengundang sejumlah pembicara tamu (Invited Speakers) lintas negara:

  1. Assoc. Prof. Dr. Anis Malik Thoha, Lc., M.A., Ph.D. – Pakar dari UNISSA (Universiti Islam Sultan Sharif Ali), Brunei Darussalam.
  2. Dr. Mowafg Abrahem Masuwd, M.A. – Akademisi dari University of Zawiya, Libya.
  3. Dr. Ruswan, M.A. – Dosen UIN Walisongo Semarang, Indonesia.

Para narasumber menyajikan materi yang interaktif, membuka ruang diskusi yang hangat seputar regulasi etis dalam pemanfaatan AI, tantangan terhadap orisinalitas karya ilmiah, serta potensi pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam ekosistem digital global.

Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, para peserta tidak hanya memperoleh wawasan yang mendalam (benefits insight) dan materi seminar (seminar materials), tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring (networking) di dalam komunitas akademik global, demi masa depan pendidikan Islam yang progresif di era digital.

Gali Deep Learning, FTIK UIN Walisongo Sukseskan PKM Internasional di Maktab Sultan Abu Bakar Malaysia

FTIK UIN Walisongo Online, Malaysia – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang semakin gencar memperluas koneksi internasionalisasi akademik di panggung global. Upaya strategis ini diwujudkan oleh program studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) FTIK UIN Walisongo melalui keberhasilan serangkaian program Student Mobility dan Visiting Lecture di Malaysia yang dilaksanakan pada 23 hingga 26 Juni 2026.

Tidak hanya berhasil menggelar forum seminar internasional di Universiti Islam Selangor (UIS), rombongan S2 PAI FTIK UIN Walisongo Semarang juga menorehkan jejak akademik di The English College Johor Bahru, yang juga dikenal sebagai Maktab Sultan Abu Bakar. Sekolah ini merupakan salah satu institusi menengah paling elit di Malaysia yang menyandang predikat Sekolah Kluster Kecemerlangan.

Kedatangan delegasi UIN Walisongo Semarang diterima secara langsung oleh Pengetua Kluster Kecemerlangan, Tuan Haji Abdul Razak Bin Abdul Samad. Dalam kata sambutannya, beliau menerangkan bahwa sekolah yang didirikan sejak tahun 1914 ini telah menjadi kawah candradimuka bagi para pemimpin nasional Malaysia, mulai dari keluarga Kesultanan Johor, para menteri, hingga profesor.

Praktik Mengajar Berlevel Internasional
Di sekolah bersejarah tersebut, para mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo menjalankan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berskala internasional. Mereka mengaplikasikan keilmuan secara praktis di ruang kelas, mendampingi kegiatan belajar-mengajar, berdiskusi soal strategi pedagogik dengan guru-guru profesional asal Malaysia, serta berinteraksi secara langsung dengan para pelajar.

Kegiatan ini menjelma sebagai wahana strategis untuk saling bertukar praktik unggulan (best practices) sekaligus berperan sebagai penghubung diplomasi akademik lintas negara.

Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo, Dr. H. Karnadi, M.Pd., mengungkapkan bahwa pengalaman mengajar di sekolah unggulan Malaysia ini menyuguhkan inspirasi berharga bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Proses pembelajaran di tempat ini mengedepankan pendekatan deep learning yang meliputi mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Komponen-komponen ini sangat krusial untuk merancang strategi pedagogi yang efektif serta memberikan dampak luas bagi peserta didik,” terang Dr. Karnadi.

Program yang telah memperoleh izin resmi dari Kementerian Sekretariat Negara RI ini menjadi bukti otentik bahwa internasionalisasi UIN Walisongo Semarang bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan aksi nyata yang memberikan kontribusi langsung bagi ekosistem pendidikan global.

Gelar Student Mobility di Malaysia, Civitas FTIK UIN Walisongo Kupas Tren AI dalam Pendidikan Islam di UIS

FTIK UIN Walisongo Online, Malaysia – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang terus mempercepat langkahnya dalam mewujudkan internasionalisasi pendidikan tinggi. Kali ini, melalui Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI), FTIK UIN Walisongo berhasil menyelenggarakan kegiatan Student Mobility dan Visiting Lecture di Universiti Islam Selangor (UIS), Malaysia, pada tanggal 23 hingga 26 Juni 2026.

Rombongan yang dipimpin oleh Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo, Dr. H. Karnadi, M.Pd., bersama Ketua Program Studi S2 PAI, Dr. Nasirudin, M.Ag., mengemban misi utama untuk meningkatkan mutu akademik dan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas di tingkat global.

Mengangkat tema “Islamic Education for Global Citizenship: From Local Wisdom to Global Impact,” forum ini menjelma menjadi ruang dialog yang intens, mempertemukan sudut pandang akademisi Indonesia dan Malaysia dalam merespons berbagai isu pendidikan kontemporer.

Dosen dan Mahasiswa Tampil Gemilang di Forum Internasional
Dalam International Seminar yang digelar, para dosen FTIK UIN Walisongo Semarang memaparkan hasil riset terkini mereka. Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed.St. mengupas studi tentang Artificial Intelligence (AI) as Learning Companion in Islamic Religious Education. Berikutnya, Dr. H. Karnadi, M.Pd. menyoroti topik Diagnostic Assessment in PAI, dan Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd. mempresentasikan instrumen asesmen ekoteologi yang didasarkan pada Kurikulum Cinta.

Selain itu, Dr. Nasirudin, M.Ag., Dr. Sofa Muthohar, M.Ag., serta Dr. Alis Asikin, M.A. juga ikut menyumbangkan pemikiran mendalam tentang etika digital, kebahasaan, hingga upaya deradikalisasi teks-teks keagamaan.

Tak hanya para dosen, 13 mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang pun mendapat kesempatan emas untuk mempresentasikan artikel ilmiah mereka di hadapan panel penguji internasional. Karya tulis bertajuk “Pendidikan Agama Islam Berbasis Cinta” yang dipresentasikan secara bersama-sama oleh Nurul Laely, Rizka Febri, dan Bayu Muzhaffar menjadi salah satu sajian yang paling menyita perhatian peserta forum.

Lebih jauh, delegasi mahasiswa lainnya juga dengan sukses memaparkan inovasi model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang diadaptasi untuk Generasi Alpha, serta integrasi penggunaan AI dalam pembelajaran agama di era digital.

Melalui rangkaian kegiatan strategis di UIS Malaysia ini, FTIK UIN Walisongo Semarang memberikan bukti nyata bahwa mahasiswa pascasarjana Islam Indonesia telah siap menjadi aktor utama dan berkontribusi secara aktif dalam percakapan pendidikan di skala global.