UIN Walisongo Semarang Sabet Gelar Top National Recognition of PAI Study Program di AICIRE 2026

Bandung — Kabar membanggakan datang dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang. Program studi ini dinobatkan sebagai “Top National Recognition of PAI Study Program” pada gelaran Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang diselenggarakan pada 14–16 Juli 2026 di Kota Bandung.

Pengakuan tersebut dituangkan dalam Certificate of Appreciation bernomor PPPAII/SERT/AICIRE/VII/2026/002, yang diserahkan oleh Perkumpulan Prodi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) bersama mitra penyelenggaranya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Penandatanganan sertifikat dilakukan langsung oleh Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si., selaku Presiden PPPAII.

Ajang AICIRE 2026 sendiri mengangkat tema besar “Transforming Islamic Religious Education for National Quality and Global Competitiveness”, dan pelaksanaannya bersamaan dengan Musyawarah Nasional (Munas) PPPAI Indonesia 2026. Sederet akademisi tampil sebagai pembicara dalam forum ini, antara lain:

  • Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Rektor UPI, yang membuka acara
  • Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si., Presiden PPPAII, sebagai pembicara kunci
  • Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., Direktur Diktis Kemenag, sebagai pembicara kunci
  • Prof. Dr. Muhamad Ali dari University of California, Amerika Serikat
  • Prof. Dr. Imam Mohammad Dawod dari Suez Canal University, Mesir
  • Prof. Dr. Udin Supriadi, M.Pd., dari Universitas Pendidikan Indonesia

Diraihnya predikat Top National Recognition ini mempertegas eksistensi Prodi PAI UIN Walisongo Semarang sebagai salah satu program studi pendidikan agama Islam yang unggul dan diperhitungkan di tingkat nasional.

Dosen UIN Walisongo Presentasikan Riset Pembelajaran Kritis PAI di AICIRE 2026

Bandung — Zulaikhah, dosen sekaligus peneliti dari UIN Walisongo Semarang, tampil sebagai presenter dalam ajang Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang digelar 14–16 Juli 2026 di Bandung. Ia memaparkan hasil risetnya yang berjudul “Beyond Knowledge Transmission: How Contextual and Differentiated Learning Promotes Critical Thinking in Islamic Primary Religious Education”.

Dalam paparannya, Zulaikhah menyoroti bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di banyak sekolah dasar masih didominasi pendekatan berpusat pada guru dan hafalan konsep-konsep keagamaan, sehingga siswa memiliki ruang terbatas untuk bertanya, berdiskusi, menganalisis, dan mengambil keputusan etis secara mandiri. Padahal, pendidikan abad ke-21 menuntut penguatan kemampuan berpikir kritis sejalan dengan penguasaan pengetahuan.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka embedded mixed methods, dilakukan di dua madrasah, yaitu MI Nurul Islam dan MI Al Khoiriyyah 02 Semarang. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, analisis dokumen, dan hasil karya belajar siswa, kemudian dianalisis menggunakan metode Reflective Thematic Analysis (Braun & Clarke, 2021).

Temuan Utama

Hasil riset mengidentifikasi empat mekanisme pedagogis yang saling terkait dan bermuara pada apa yang disebut Zulaikhah sebagai “Reflective Moral Agency” — kemampuan siswa mengintegrasikan penalaran analitis dengan prinsip moral Islam dalam pengambilan keputusan.

Studi ini juga menawarkan kontribusi teoretis baru, di antaranya memaknai ulang Contextual Learning sebagai Epistemic Entry Point dan Differentiated Learning sebagai bentuk Epistemic Equity yang memberi kesempatan setara bagi siswa untuk berpikir kritis.

Moving beyond knowledge transmission requires learning environments where authentic experiences, differentiated participation, dialogic inquiry, and Islamic values work together to cultivate critical thinking and reflective moral agency,” demikian salah satu simpulan utama yang disampaikan dalam presentasi tersebut.

Presentasi ini menjadi salah satu kontribusi ilmiah UIN Walisongo Semarang dalam forum AICIRE 2026, sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran agama Islam yang lebih kontekstual, adil, dan berorientasi pada penguatan berpikir kritis siswa sejak jenjang pendidikan dasar.

Prodi PAI UIN Walisongo Semarang Raih Top International Recognition di AICIRE 2026

Bandung — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang meraih penghargaan “Top International Recognition of PAI Study Program” dalam ajang Annual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) 2026 yang berlangsung pada 14–16 Juli 2026 di Bandung.

Penghargaan berupa Certificate of Appreciation dengan nomor PPPAII/SERT/AICIRE/VII/2026/002 ini diberikan oleh Perkumpulan Prodi Pendidikan Agama Islam Indonesia (PPPAII) yang bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai penyelenggara. Sertifikat tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden PPPAII, Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si.

AICIRE 2026 mengusung tema “Transforming Islamic Religious Education for National Quality and Global Competitiveness”, dan digelar beriringan dengan Musyawarah Nasional (Munas) PPPAI Indonesia 2026. Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, di antaranya:

  • Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A. — Rektor UPI (opening speaker)
  • Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si. — Presiden PPPAII (keynote speaker)
  • Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A. — Direktur Diktis Kemenag (keynote speaker)
  • Prof. Dr. Muhamad Ali — University of California, Amerika Serikat (speaker)
  • Prof. Dr. Imam Mohammad Dawod — Suez Canal University, Mesir (speaker)
  • Prof. Dr. Udin Supriadi, M.Pd. — Universitas Pendidikan Indonesia (speaker)

Predikat Top International Recognition ini menjadi bentuk pengakuan atas kiprah Prodi PAI UIN Walisongo Semarang di tingkat internasional, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu program studi pendidikan agama Islam terkemuka di Indonesia.

FTIK Perkuat Mutu Pendidikan Global melalui Asesmen Internasional ACQUIN Cluster 3 pada Tiga Program Studi

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menjalankan langkah strategis untuk memperkuat mutu pendidikan tinggi dengan mengikutsertakan tiga program studi dalam asesmen internasional ACQUIN Cluster 3 pada 13–14 Juli 2026. Program studi yang terlibat adalah S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan S-1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Asesmen ini mengevaluasi berbagai aspek seperti tata kelola, mutu akademik, proses pembelajaran, dan layanan pendidikan sesuai standar global.

Bertempat di Laboratorium Komputer (LabCom) PTIPD, proses asesmen mempertemukan asesor ACQUIN dengan segenap elemen penting FTIK dan universitas, termasuk pimpinan institusi, pengelola fakultas dan prodi, tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, serta alumni. Kegiatan ini bukan sekadar memeriksa kelengkapan dokumen akademik, melainkan juga menjadi momentum refleksi atas efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan dampaknya pada mutu lulusan.

Bagi FTIK, partisipasi dalam asesmen internasional ini merupakan bagian dari taktik penguatan mutu akademik sekaligus upaya mewujudkan internasionalisasi pendidikan keguruan. Fakultas meyakini bahwa standar global tidak hanya berfungsi sebagai tolok ukur pencapaian, tetapi juga sebagai alat untuk menyempurnakan sistem, memperkokoh tata kelola, dan menjamin lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan tuntutan zaman.

FTIK Ikut Sertakan Tiga Prodi Pendidikan dalam Penilaian Mutu Bertaraf Internasional
Keikutsertaan FTIK dalam ACQUIN Cluster 3 menjadi tonggak penting untuk menunjukkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di tiga program studi andalannya, yaitu S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 PGMI, dan S-1 PIAUD.

Ketiga prodi ini memegang peran vital dalam mencetak calon pendidik profesional di berbagai tingkat. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada pengembangan kompetensi calon guru bahasa yang tanggap terhadap kebutuhan pendidikan global. Prodi PGMI menitikberatkan pada penguatan tenaga pendidik sekolah dasar dengan landasan akademik dan nilai-nilai keislaman yang kokoh, sementara Prodi PIAUD bertujuan melahirkan pendidik anak usia dini dengan kompetensi pedagogik dan pemahaman perkembangan anak yang holistik.

Dekan FTIK, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag, menekankan bahwa keterlibatan ketiga prodi ini dalam asesmen ACQUIN adalah wujud komitmen fakultas untuk terus mengangkat kualitas pendidikan dan memperkuat daya saing di kancah internasional.

Beliau memandang asesmen internasional bukan semata sebagai evaluasi atas capaian, melainkan juga peluang untuk mendapatkan masukan yang membangun bagi kemajuan fakultas dan prodi di masa depan. FTIK berharap proses ini dapat memantapkan budaya mutu, meningkatkan kualitas pelayanan akademik, serta memacu inovasi pembelajaran yang lebih adaptif terhadap dinamika global.

“Asesmen internasional adalah wahana pembelajaran bagi institusi untuk mengukur posisinya, membenahi kekurangan, dan mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki. Harapan kami, ketiga prodi yang mengikuti proses ini dapat semakin membuktikan kualitas akademiknya serta menghasilkan lulusan pendidikan yang unggul dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” begitu inti harapan Dekan FTIK.

Dalam asesmen ini, para asesor ACQUIN mendalami beragam aspek penyelenggaraan pendidikan, mulai dari strategi pengelolaan fakultas, penerapan kurikulum, sistem penjaminan mutu, kualitas pengajaran, kompetensi dosen, layanan mahasiswa, hingga masukan alumni yang memberikan gambaran tentang relevansi pendidikan.

Dialog Multipihak Buktikan Penerapan Nyata Budaya Mutu
Hari pertama asesmen, Senin 13 Juli 2026, diawali dengan gladi teknis dan tes Zoom individu oleh tim PTIPD serta Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) untuk memastikan seluruh perangkat dan sistem komunikasi berfungsi dengan baik.

Evaluasi kemudian dimulai melalui Putaran Diskusi 1: Manajemen Universitas yang melibatkan Rektor beserta jajaran manajemen. Diskusi ini menjadi panggung untuk memaparkan arah kebijakan, strategi pengembangan universitas, dan komitmen pimpinan dalam membangun sistem pendidikan berbasis mutu.

Rangkaian berlanjut ke Putaran Diskusi 2: Manajerial Fakultas dan Program Studi yang melibatkan Dekan, unsur fakultas, serta para ketua prodi. Pada sesi ini, FTIK memaparkan beragam aspek pengelolaan akademik, meliputi pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, pengembangan SDM, hingga implementasi sistem penjaminan mutu di tingkat fakultas dan prodi.

Sesi ketiga melibatkan Staf Administrasi dari para kepala biro dan timnya. Sudut pandang tenaga kependidikan menjadi krusial untuk melihat bagaimana sistem administrasi menopang kualitas layanan akademik bagi mahasiswa dan dosen.

Di hari kedua, Selasa 14 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan Tur Kampus Langsung yang dipandu oleh moderator fakultas bersama videografer dari fakultas dan prodi. Kegiatan ini menyuguhkan gambaran riil lingkungan akademik dan sarana pendukung pembelajaran.

Asesmen kemudian berlanjut pada Putaran Diskusi Alumni dan Mahasiswa serta Putaran Diskusi Program Studi dan Dosen. Kehadiran mahasiswa, alumni, dosen, dan pengelola prodi menyajikan perspektif yang lebih utuh tentang pengalaman akademik, kualitas perkuliahan, relevansi kompetensi lulusan, serta tantangan dalam mengembangkan pendidikan.

Seluruh proses ini terselenggara berkat koordinasi erat antara FTIK, program studi, PTIPD, dan LPM. Semua peserta mematuhi standar asesmen internasional, mencakup kesiapan perangkat, ketepatan waktu, penataan komunikasi selama sesi daring, dan ketersediaan dokumen pendukung.

ACQUIN Sebagai Katalis Transformasi Mutu dan Internasionalisasi FTIK
Penyelenggaraan ACQUIN Cluster 3 menandai perjalanan FTIK dalam menanamkan budaya mutu yang berkesinambungan. Proses asesmen ini membuktikan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tinggi tidak hanya bertumpu pada dokumen akademik, tetapi juga pada praktik nyata yang menyertakan seluruh komunitas akademik.

Partisipasi aktif pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni menegaskan bahwa mutu pendidikan adalah buah dari kerja kolaboratif. Setiap elemen memiliki peran dalam menjamin bahwa proses pendidikan mampu melahirkan lulusan yang kompeten, profesional, dan berdaya saing.

Harapan Dekan FTIK kembali menegaskan pentingnya menjadikan hasil asesmen sebagai pijakan untuk pengembangan yang berkelanjutan. Masukan dari para asesor diharapkan dapat menjadi acuan strategis untuk memperkuat sistem akademik, meningkatkan kualitas layanan, dan memperlebar jaringan internasional.

Lebih dari sekadar capaian akreditasi, ACQUIN Cluster 3 menjadi cermin bahwa pendidikan keguruan mengemban tanggung jawab besar dalam membangun masa depan bangsa. Kualitas guru yang dihasilkan lembaga pendidikan tinggi akan sangat menentukan kualitas generasi penerus yang mereka bimbing.

Dengan komitmen tinggi terhadap evaluasi, inovasi, dan perbaikan berkelanjutan, FTIK membuktikan bahwa internasionalisasi pendidikan bukan sekadar meraih pengakuan global, melainkan membentuk institusi yang terus belajar, berkembang, dan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat luas.

Pakar Lintas Negara Kupas Tuntas Etika Digital, FTIK UIN Walisongo Sukses Gelar Seminar Internasional

FTIK UIN Walisongo Online, Semarang – Merespons pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang menggelar Seminar Internasional bertajuk “Digital Ethics and Islamic Education: Shaping Responsible Generations in the Era of Artificial Intelligence” pada Kamis, 18 Juni 2026.

Berlangsung dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, acara ini diselenggarakan secara hibrida, menggabungkan partisipasi langsung di Ruang Teater Gedung General Library & ICT Center UIN Walisongo Semarang dengan akses daring melalui platform virtual. Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai penjuru dunia.

Mengarahkan Etika Digital di Era AI
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., dan Dekan FTIK UIN Walisongo, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., hadir sebagai pembicara kunci (Keynote Speakers). Keduanya menyampaikan pandangan strategis tentang bagaimana pendidikan Islam semestinya menyikapi disrupsi teknologi masa kini.

Dalam paparannya, Rektor UIN Walisongo menekankan bahwa AI merupakan perangkat yang revolusioner, tetapi daya guna dan dampaknya sepenuhnya ditentukan oleh nilai-nilai moral penggunanya.

“Kecerdasan buatan menawarkan kemudahan luar biasa bagi dunia akademik. Namun, AI tidak dibekali spiritualitas maupun kompas moral. Di sinilah letak peran vital Pendidikan Islam, yakni menanamkan etika digital yang berlandaskan nilai-nilai profetik, sehingga generasi muda kita tak hanya terampil secara teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dan akhlak mulia,” tegas Prof. Musahadi.

Sejalan dengan hal itu, Dekan FTIK UIN Walisongo menekankan urgensi transformasi kurikulum pendidikan untuk menjawab tantangan era tanpa melepaskan akar autentisitas keilmuan Islam.

“FTIK UIN Walisongo memiliki komitmen kuat untuk mencetak pendidik masa depan yang adaptif. Melalui forum ini, kita menyusun strategi pembelajaran di mana AI diposisikan sebagai rekan dalam mempercepat proses kognitif, sementara pembinaan akhlak tetap menjadi fondasi utama yang tak tergantikan oleh mesin algoritma apa pun,” ungkap Prof. Abdul Rohman.

Kolaborasi Global Bersama Pembicara Mancanegara
Untuk mengkaji tema tersebut secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang, seminar ini mengundang sejumlah pembicara tamu (Invited Speakers) lintas negara:

  1. Assoc. Prof. Dr. Anis Malik Thoha, Lc., M.A., Ph.D. – Pakar dari UNISSA (Universiti Islam Sultan Sharif Ali), Brunei Darussalam.
  2. Dr. Mowafg Abrahem Masuwd, M.A. – Akademisi dari University of Zawiya, Libya.
  3. Dr. Ruswan, M.A. – Dosen UIN Walisongo Semarang, Indonesia.

Para narasumber menyajikan materi yang interaktif, membuka ruang diskusi yang hangat seputar regulasi etis dalam pemanfaatan AI, tantangan terhadap orisinalitas karya ilmiah, serta potensi pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam ekosistem digital global.

Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, para peserta tidak hanya memperoleh wawasan yang mendalam (benefits insight) dan materi seminar (seminar materials), tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring (networking) di dalam komunitas akademik global, demi masa depan pendidikan Islam yang progresif di era digital.

Gali Deep Learning, FTIK UIN Walisongo Sukseskan PKM Internasional di Maktab Sultan Abu Bakar Malaysia

FTIK UIN Walisongo Online, Malaysia – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang semakin gencar memperluas koneksi internasionalisasi akademik di panggung global. Upaya strategis ini diwujudkan oleh program studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) FTIK UIN Walisongo melalui keberhasilan serangkaian program Student Mobility dan Visiting Lecture di Malaysia yang dilaksanakan pada 23 hingga 26 Juni 2026.

Tidak hanya berhasil menggelar forum seminar internasional di Universiti Islam Selangor (UIS), rombongan S2 PAI FTIK UIN Walisongo Semarang juga menorehkan jejak akademik di The English College Johor Bahru, yang juga dikenal sebagai Maktab Sultan Abu Bakar. Sekolah ini merupakan salah satu institusi menengah paling elit di Malaysia yang menyandang predikat Sekolah Kluster Kecemerlangan.

Kedatangan delegasi UIN Walisongo Semarang diterima secara langsung oleh Pengetua Kluster Kecemerlangan, Tuan Haji Abdul Razak Bin Abdul Samad. Dalam kata sambutannya, beliau menerangkan bahwa sekolah yang didirikan sejak tahun 1914 ini telah menjadi kawah candradimuka bagi para pemimpin nasional Malaysia, mulai dari keluarga Kesultanan Johor, para menteri, hingga profesor.

Praktik Mengajar Berlevel Internasional
Di sekolah bersejarah tersebut, para mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo menjalankan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berskala internasional. Mereka mengaplikasikan keilmuan secara praktis di ruang kelas, mendampingi kegiatan belajar-mengajar, berdiskusi soal strategi pedagogik dengan guru-guru profesional asal Malaysia, serta berinteraksi secara langsung dengan para pelajar.

Kegiatan ini menjelma sebagai wahana strategis untuk saling bertukar praktik unggulan (best practices) sekaligus berperan sebagai penghubung diplomasi akademik lintas negara.

Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo, Dr. H. Karnadi, M.Pd., mengungkapkan bahwa pengalaman mengajar di sekolah unggulan Malaysia ini menyuguhkan inspirasi berharga bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Proses pembelajaran di tempat ini mengedepankan pendekatan deep learning yang meliputi mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Komponen-komponen ini sangat krusial untuk merancang strategi pedagogi yang efektif serta memberikan dampak luas bagi peserta didik,” terang Dr. Karnadi.

Program yang telah memperoleh izin resmi dari Kementerian Sekretariat Negara RI ini menjadi bukti otentik bahwa internasionalisasi UIN Walisongo Semarang bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan aksi nyata yang memberikan kontribusi langsung bagi ekosistem pendidikan global.

Gelar Student Mobility di Malaysia, Civitas FTIK UIN Walisongo Kupas Tren AI dalam Pendidikan Islam di UIS

FTIK UIN Walisongo Online, Malaysia – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang terus mempercepat langkahnya dalam mewujudkan internasionalisasi pendidikan tinggi. Kali ini, melalui Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI), FTIK UIN Walisongo berhasil menyelenggarakan kegiatan Student Mobility dan Visiting Lecture di Universiti Islam Selangor (UIS), Malaysia, pada tanggal 23 hingga 26 Juni 2026.

Rombongan yang dipimpin oleh Wakil Dekan III FTIK UIN Walisongo, Dr. H. Karnadi, M.Pd., bersama Ketua Program Studi S2 PAI, Dr. Nasirudin, M.Ag., mengemban misi utama untuk meningkatkan mutu akademik dan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas di tingkat global.

Mengangkat tema “Islamic Education for Global Citizenship: From Local Wisdom to Global Impact,” forum ini menjelma menjadi ruang dialog yang intens, mempertemukan sudut pandang akademisi Indonesia dan Malaysia dalam merespons berbagai isu pendidikan kontemporer.

Dosen dan Mahasiswa Tampil Gemilang di Forum Internasional
Dalam International Seminar yang digelar, para dosen FTIK UIN Walisongo Semarang memaparkan hasil riset terkini mereka. Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed.St. mengupas studi tentang Artificial Intelligence (AI) as Learning Companion in Islamic Religious Education. Berikutnya, Dr. H. Karnadi, M.Pd. menyoroti topik Diagnostic Assessment in PAI, dan Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd. mempresentasikan instrumen asesmen ekoteologi yang didasarkan pada Kurikulum Cinta.

Selain itu, Dr. Nasirudin, M.Ag., Dr. Sofa Muthohar, M.Ag., serta Dr. Alis Asikin, M.A. juga ikut menyumbangkan pemikiran mendalam tentang etika digital, kebahasaan, hingga upaya deradikalisasi teks-teks keagamaan.

Tak hanya para dosen, 13 mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang pun mendapat kesempatan emas untuk mempresentasikan artikel ilmiah mereka di hadapan panel penguji internasional. Karya tulis bertajuk “Pendidikan Agama Islam Berbasis Cinta” yang dipresentasikan secara bersama-sama oleh Nurul Laely, Rizka Febri, dan Bayu Muzhaffar menjadi salah satu sajian yang paling menyita perhatian peserta forum.

Lebih jauh, delegasi mahasiswa lainnya juga dengan sukses memaparkan inovasi model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) yang diadaptasi untuk Generasi Alpha, serta integrasi penggunaan AI dalam pembelajaran agama di era digital.

Melalui rangkaian kegiatan strategis di UIS Malaysia ini, FTIK UIN Walisongo Semarang memberikan bukti nyata bahwa mahasiswa pascasarjana Islam Indonesia telah siap menjadi aktor utama dan berkontribusi secara aktif dalam percakapan pendidikan di skala global.

Benchmarking PAI UAD ke PAI UIN Walisongo: Bahas Kolaborasi Tridarma & Internasionalisasi

Kunjungan Prodi PAI UAD ke Prodi PAI UIN Walisongo menjadi ruang silaturahmi akademik sekaligus penjajakan kerja sama Tridarma Perguruan Tinggi, dengan fokus pada penguatan internasionalisasi kurikulum dan pengelolaan program akademik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 10 Juni 2026, bertempat di Ruang Rapat Kantor Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang, Lantai 2 Dekanat (Kampus 2), kawasan Ngaliyan, Semarang (Jl. Prof. Hamka).

Pertemuan diikuti oleh 23 peserta (13 tamu dan 10 tuan rumah) dan berlangsung dalam suasana hangat, terbuka, serta berorientasi pada langkah tindak lanjut yang konkret. Rangkaian acara dipandu oleh Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) FTIK UIN Walisongo, Hj. Zulaikhah, M.Ag., M.Pd., yang sekaligus memimpin jalannya diskusi.

Melalui kunjungan ini, kedua pihak menegaskan komitmen untuk menjadikan forum silaturahmi sebagai titik awal penguatan jejaring kelembagaan. Secara umum, penjajakan kerja sama diarahkan pada aktivitas yang relevan dengan kebutuhan program studi, seperti pengembangan kurikulum, pengayaan perkuliahan melalui narasumber tamu, kolaborasi riset dosen-mahasiswa, hingga rancangan program pengabdian kepada masyarakat yang dapat dikerjakan bersama.

Poin Penting

  • Forum akademik diikuti 23 peserta: 13 tamu (Prodi PAI FAI UAD) dan 10 tuan rumah (Prodi PAI FTIK UIN Walisongo) bertemu di Ruang Rapat Lantai 2 Dekanat FTIK, Kampus 2.
  • Kolaborasi tridarma jadi prioritas: kerja sama diarahkan pada bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
  • Internasionalisasi jadi fokus utama: diskusi menyoroti tata kelola kurikulum berorientasi internasional dan praktik pendukungnya.
  • Sharing praktik akademik: pembahasan meliputi PLP/magang, KKN terintegrasi PLP, pertukaran penguji, opsi tugas akhir non-skripsi, beban SKS, dan strategi kelulusan tepat waktu.
  • International Class Program (ICP) jadi topik khusus: pengalaman pengelolaan kelas internasional dibahas sebagai bahan pembelajaran bersama.

Kegiatan diawali dengan sambutan selamat datang dari tuan rumah. Hj. Zulaikhah, M.Ag., M.Pd. menyampaikan apresiasi atas kunjungan akademik tersebut dan menegaskan kesiapan Prodi PAI FTIK UIN Walisongo untuk membuka ruang kolaborasi antarinstitusi. Dalam pengantarnya, beliau menekankan semangat penerimaan tamu dan membangun jejaring akademik, dengan menyampaikan bahwa pihaknya “membuka pintu selebar-lebarnya” untuk para tamu, seraya berharap kunjungan semacam ini menghadirkan keberkahan dan penguatan kemitraan. Secara kelembagaan, Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo berada di bawah FTIK dan memiliki komitmen mencetak pendidik profesional di bidang pendidikan Islam.

Komitmen Kerja Sama dari Prodi PAI FAI UAD

Sambutan dari Kaprodi PAI Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yazida Ichsan, menegaskan adanya keinginan untuk memperkuat kerja sama lintas kampus dalam ranah akademik. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan fokus kerja sama pada pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—sebagai ruang kolaborasi yang dapat dirancang bersama. Arah tersebut sejalan dengan penguatan peran Prodi PAI FAI UAD dalam pengembangan pendidikan agama Islam dan aktivitas akademik-kemahasiswaan yang terdokumentasi melalui kanal resmi program studi.

Transformasi Dua Arah: Saling Belajar dan Saling Adaptasi

Dekan FTIK UIN Walisongo, Prof. Abdurrahman, dalam sambutannya menekankan gagasan transformasi dua arah. Beliau menyampaikan bahwa praktik-praktik baik yang berkembang di masing-masing program studi dapat saling dipelajari dan diadaptasi. Dalam konteks ini, Prof. Abdurrahman menegaskan semangat “bisa saling bertransformasi” yang baik dari Prodi PAI FTIK UIN Walisongo dapat diadaptasi oleh Prodi PAI FAI UAD, dan sebaliknya.

Pesan tersebut menggarisbawahi bahwa kunjungan akademik tidak berhenti pada seremonial, melainkan menjadi ruang membangun budaya mutu melalui pembelajaran antarinstitusi. Dengan kerangka itu, diskusi diarahkan pada pemetaan kebutuhan, peluang, serta bentuk kegiatan kolaboratif yang realistis untuk dijalankan.

Prodi PAI UAD ke Prodi PAI UIN Walisongo: Fokus Diskusi ICP dan Internasionalisasi Kurikulum

Salah satu agenda utama adalah sesi berbagi (sharing) terkait pengelolaan ICP/International Class Program (ICP). Wakil Dekan I, Dr. Ahmad Muthohar, menyampaikan pemaparan dan membuka ruang dialog mengenai pengalaman penguatan kelas ICP sebagai bagian dari strategi internasionalisasi, termasuk aspek-aspek tata kelola akademik yang perlu disiapkan agar program berjalan efektif.

Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, pihak Prodi PAI FAI UAD menggali beberapa aspek pengelolaan akademik yang dinilai strategis, antara lain:

  • internasionalisasi kurikulum dan penguatan pengalaman belajar;
  • pengelolaan magang/PLP;
  • skema KKN terintegrasi PLP;
  • kemungkinan pertukaran (exchange) penguji;
  • alternatif tugas akhir non-skripsi;
  • penataan beban SKS;
  • strategi mendorong kelulusan tepat waktu.

Rangkaian topik tersebut menunjukkan bahwa forum ini bukan semata kunjungan, melainkan upaya berbagi praktik baik (benchmarking) dan menyusun pemahaman bersama mengenai tata kelola program studi yang adaptif terhadap kebutuhan zaman dan arah pengembangan kelembagaan.

Penutup: Penguatan Silaturahmi dan Arah Tindak Lanjut

Kegiatan ditutup dengan penegasan komitmen untuk menjaga komunikasi dan membuka ruang kolaborasi lanjutan. Pada pertemuan ini belum dilakukan penandatanganan MoU/PKS; namun, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan penjajakan kerja sama melalui penyusunan rencana kerja bersama sesuai kebutuhan institusi, baik pada bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Sebagai penutup, kedua pihak saling bertukar cinderamata sebagai simbol apresiasi dan penguatan silaturahmi. Dokumentasi kegiatan turut melengkapi catatan kunjungan ini sebagai bagian dari ikhtiar membangun kolaborasi akademik yang berkelanjutan.

Bangkitkan Reputasi, Melalui Karya Ilmiyah, HMJ PAI Selenggarakan Workshop Kepenulisan Artikel

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Selenggarakan Acara Workshop Kepenulisan Artikel pada Jumat (22/05) di Gedung Teater IsDB FTIK Lt.3 Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis artikel yang baik dan sesuai kaidah. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh Ketua Jurusan PAI, Wakil Dekan III FTIK, narasumber, moderator, pengurus HMJ PAI, serta peserta dari delegasi kelas dan ormawa.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan pembacaan doa dan rangkaian sambutan. Acara kemudian memasuki sesi inti berupa workshop kepenulisan artikel ilmiah yang membahas kaidah penulisan, struktur artikel, hingga tata cara submit artikel.

Ketua Pelaksana, Widya Cantika Putri menyampaikan bahwa workshop kepenulisan artikel ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan literasi peserta melalui penyusunan artikel ilmiah yang disertai penyampaian materi dan sesi praktik.

“Workshop kepenulisan artikel ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan literasi melalui penyusunan artikel ilmiah. Dalam workshop ini akan ada penyampaian teori dari narasumber serta sesi praktik agar peserta dapat memahami materi lebih mendalam,” ungkapnya.

Ketua HMJ PAI, Muhammad Aidil Maghfur menyampaikan bahwa menulis artikel sangat penting bagi mahasiswa, baik yang belum lulus maupun yang sudah lulus, dan dengan menerbitkan artikel, mahasiswa bisa lulus tanpa skripsi.

“Menulis artikel sangat penting bagi mahasiswa, baik yang belum lulus maupun yang sudah lulus, dan dengan menerbitkan artikel, mahasiswa diperbolehkan lulus tanpa mengerjakan skripsi,” jelasnya.

Ketua Jurusan PAI, Ibu Hj. Zulaikhah, M.Ag., M.Pd., menyampaikan bahwa workshop tersebut sangat bermanfaat bagi mahasiswa, terutama dalam mendukung penyelesaian tugas akhir non skripsi melalui penulisan artikel ilmiah.

“Ini sangat menguntungkan bagi mahasiswa karena tugas akhir tidak hanya dalam bentuk skripsi, tetapi ada juga tugas akhir non skripsi, salah satunya menulis artikel. Manfaatkan acara ini sebaik-baiknya agar ada hasilnya, karena nantinya narasumber akan memberikan teknik-teknik yang efektif dalam menulis,” tuturnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan III FTIK, Bapak Dr. Drs. H. Karnadi, M.Pd., yang menekankan pentingnya proses belajar dan ketekunan dalam menulis artikel ilmiah meskipun menghadapi berbagai tantangan.

“Hampir semua orang bisa menulis, tetapi menulis artikel tidak semua orang bisa karena itu harus dipelajari. Dalam prosesnya, Anda akan mengalami jalan yang berliku, mulai dari submit hingga ditolak, tetapi jangan putus asa dan harus terus mencoba lagi. Karena resepnya orang menulis artikel adalah mencoba, gagal lebih baik daripada gagal mencoba,” pesannya.

Usai rangkaian sambutan, acara kemudian memasuki sesi inti berupa Workshop Kepenulisan Artikel dengan menghadirkan Nazih Sadatul Kahfi, M.Pd. selaku narasumber. Workshop tersebut dipandu oleh Yusron Nur Hadi, S.Pd., selaku moderator.

Nazih Sadatul Kahfi, M.Pd. selaku narasumber, pada awal pemaparannya menyampaikan bahwa menulis merupakan cara meninggalkan jejak sejarah dan karya yang akan terus dikenang. Ia juga menekankan pentingnya ide dalam sebuah tulisan.

“Ketika kita menulis, berarti kita sedang menuliskan sejarah dan meninggalkan jejak agar karya kita tetap dikenang meskipun kita sudah tidak ada. Ulama terdahulu dikenal bukan karena nama besarnya, tetapi karena karya dan peninggalan ilmiahnya. Yang paling penting adalah bagaimana ide dituangkan dalam tulisan, karena ide itulah yang mahal, bukan sekadar cara menulisnya,” jelasnya.

Setelah sesi pemaparan materi dan praktik selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dokumentasi, serta penyerahan kenang-kenangan kepada narasumber dan moderator sebelum akhirnya acara ditutup oleh pembawa acara.

Penulis: Alan Tsalits Kholifatustsani

Menuju Keunggulan melalui Integrasi Keilmuan, HMJ PAI Selenggarakan Olimpiade Cendekiawan Muslim Season 2

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Selenggarakan Olimpiade Cendekiawan Muslim Season 2 pada Rabu (13/5/26) di Teater IsDB FTIK Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini mengangkat tema “Cendekiawan Muslim Menuju Keunggulan Peradaban melalui Integrasi Keilmuan” yang dihadiri oleh Ketua Jurusan, Jajaran Dosen, dan para peserta lomba OCM Tingkat Nasional SMP/MTs Sederajat dan SMA/MA Sederajat, serta dihadiri Para Juri Olimpiade.

Ketua panitia, Rasid Pranama Putra mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh pihak, serta berharap para peserta mampu mengikuti lomba sampai akhir, karena menang atau kalah itu bukan hal utama, tetapi keberanian adalah kemenangan sejati

“Saya ucapkan selamat datang kepada para peserta di kampus ini, dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkenan mengsukseskan acara ini, serta saya berharap kepada para peserta lomba agar mampu mengikuti lomba sampai akhir, karena menang atau kalah itu bukan hal utama, tetapi keberanian adalah kemenangan sejati,” ungkapnya. 

Ketua Umum HMJ PAI, Muhammad Aidil Maghfur memberikan pesan kepada para peserta lomba untuk menjaga suportifitas dan berharap apa yang dipersiapkan menjadi hasil seperti yang diiinginkan.

“Saya berpesan kepada para peserta lomba untuk menjaga supotifitas, dan berharap apa yang kalian persiapkan menjadi hasil seperti yang kalian inginkan,” jelasnya.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan peraturan lomba oleh panitia yang bertugas, lalu para peserta diberikan waktu jeda, kemudian perlombaan dimulai dari jenjang SMP/MTs Sederajat.

Sesi pertama, semua peserta lomba mengerjakan soal tertulis dalam waktu yang ditentukan, kemudian dikumpulkan ke panitia.

Sesi kedua, semua peserta lomba mengerjakan soal benar atau salah dengan ketentuan yang diberikan panitia.

Sesi ketiga, semua peserta mengerjakan soal jawaban singkat dengan rincian 15 soal sesuai ketentuan yang diberikan panitia.

Sesi terakhir, semua peserta lomba mengerjakan soal dengan jawaban rebutan sesuai dengan ketentuan yang diberikan panitia. 

Selanjutnya menuju babak final yang diikuti oleh 5 peserta, dan pemenangnya untuk jenjang SMP/MTs Sederajat adalah Batrisya Raihanah Prabowo dari SMP Islam Hidayatullah Banyumanik Semarang.

Selanjutnya perlombaan untuk jenjang SMA/MA Sederajat dengan rincian sesi soal seperti jenjang SMP/MTs Sederajat, dan pemenang lomba untuk jenjang SMA/MA Sederajat adalah Fattya Rahmaniya dari MA Darul Huda Ponorogo.

Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan lomba, lalu ditutup dengan pembacaan doa.

Penulis: Wildan Muhlisin 

HMJ PAI FTIK UIN Walisongo Gelar Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit untuk Bekali Strategi Lolos Seleksi

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dengan tema “Roadmap Lolos Beasiswa: Mempersiapkan Diri Sejak Dini” pada Rabu (13/5) bertempat di Gedung Teater IsDB FTIK Lantai 3 Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan seputar program Beasiswa Indonesia Bangkit serta membantu peserta memahami strategi dan persiapan dalam menghadapi proses seleksi beasiswa. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh Sekretaris Jurusan PAI, narasumber, moderator, pengurus HMJ PAI, serta peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta rangkaian sambutan sebelum memasuki acara inti.

Shindy Nur Rohmah, selaku ketua pelaksana, menyampaikan bahwa Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit diselenggarakan sebagai wadah untuk memberikan wawasan dan motivasi kepada peserta terkait peluang beasiswa serta persiapan dalam mengikuti proses seleksi.

“Tujuan dari seminar ini adalah untuk memberikan informasi, wawasan, serta motivasi kepada peserta mengenai peluang Beasiswa Indonesia Bangkit. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu peserta memahami proses persiapan pendaftaran serta mendorong peserta untuk meningkatkan kualitas diri agar dapat meraih kesempatan dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Aidil Maghfur, selaku Ketua HMJ PAI, menyampaikan pentingnya memahami alur dan persiapan dalam mengikuti program Beasiswa Indonesia Bangkit. Ia menyebut seminar ini sebagai kesempatan untuk memperoleh informasi terkait proses pendaftaran beasiswa.

“Pada seminar kali ini, narasumber akan memaparkan tips dan trik dalam mengikuti serta mempersiapkan pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit agar peluang lolos seleksi dapat lebih maksimal. Selain itu, narasumber juga merupakan Pengurus Nasional Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) sehingga peserta diharapkan dapat memperoleh informasi dan gambaran yang lebih mendalam terkait proses seleksi beasiswa,” ungkapnya.

Bapak Moh. Syakur, M.S.I selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam, menyampaikan bahwa memperoleh beasiswa memerlukan strategi dan kesiapan yang matang, tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik.

“Untuk bisa lolos beasiswa tentu tidak mudah karena diperlukan strategi dan persiapan yang baik. Banyak pelajar maupun mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan beasiswa. Beasiswa bukan hanya sarana untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi motivasi dan bentuk kesiapan diri untuk memberikan kontribusi dalam pendidikan dan syiar Islam,” tuturnya.

Setelah rangkaian sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi inti berupa Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit yang menghadirkan Widodo Febri Utomo, M.Pd. selaku Pengurus Nasional Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) sebagai narasumber dan dipandu oleh Rizka Febri Melindasari, S.Pd. selaku moderator.

Widodo Febri Utomo, M.Pd. selaku narasumber memaparkan materi mengenai alur dan proses seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit, mulai dari jalur pendaftaran hingga tahapan seleksi wawancara. Peserta juga diajak memahami strategi menghadapi seleksi melalui pembahasan beberapa contoh soal akademik.

“Seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit bukan hanya tentang melengkapi persyaratan administrasi, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri dalam menghadapi setiap tahapan seleksi. Mulai dari penugasan, tes akademik, hingga wawancara, semuanya memerlukan strategi dan kesiapan yang matang agar peluang lolos bisa lebih besar,” jelasnya.

Usai seminar Beasiswa Indonesia Bangkit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dokumentasi, dan foto bersama. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan moderator serta pengumuman juara dan penyerahan hadiah kepada para pelajar peserta Olimpiade Cendekiawan Muslim (OCM).

Penulis : Alan Tsalits Kholifatustsani

HMJ PAI FTIK UIN Walisongo Gelar Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit untuk Bekali Strategi Lolos Seleksi

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dengan tema “Roadmap Lolos Beasiswa: Mempersiapkan Diri Sejak Dini” pada Rabu (13/5) bertempat di Gedung Teater IsDB FTIK Lantai 3 Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan seputar program Beasiswa Indonesia Bangkit serta membantu peserta memahami strategi dan persiapan dalam menghadapi proses seleksi beasiswa. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh Sekretaris Jurusan PAI, narasumber, moderator, pengurus HMJ PAI, serta peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta rangkaian sambutan sebelum memasuki acara inti.

Shindy Nur Rohmah, selaku ketua pelaksana, menyampaikan bahwa Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit diselenggarakan sebagai wadah untuk memberikan wawasan dan motivasi kepada peserta terkait peluang beasiswa serta persiapan dalam mengikuti proses seleksi.

“Tujuan dari seminar ini adalah untuk memberikan informasi, wawasan, serta motivasi kepada peserta mengenai peluang Beasiswa Indonesia Bangkit. Kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu peserta memahami proses persiapan pendaftaran serta mendorong peserta untuk meningkatkan kualitas diri agar dapat meraih kesempatan dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Aidil Maghfur, selaku Ketua HMJ PAI, menyampaikan pentingnya memahami alur dan persiapan dalam mengikuti program Beasiswa Indonesia Bangkit. Ia menyebut seminar ini sebagai kesempatan untuk memperoleh informasi terkait proses pendaftaran beasiswa.

“Pada seminar kali ini, narasumber akan memaparkan tips dan trik dalam mengikuti serta mempersiapkan pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit agar peluang lolos seleksi dapat lebih maksimal. Selain itu, narasumber juga merupakan Pengurus Nasional Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) sehingga peserta diharapkan dapat memperoleh informasi dan gambaran yang lebih mendalam terkait proses seleksi beasiswa,” ungkapnya.

Bapak Moh. Syakur, M.S.I selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam, menyampaikan bahwa memperoleh beasiswa memerlukan strategi dan kesiapan yang matang, tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik.

“Untuk bisa lolos beasiswa tentu tidak mudah karena diperlukan strategi dan persiapan yang baik. Banyak pelajar maupun mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan beasiswa. Beasiswa bukan hanya sarana untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi motivasi dan bentuk kesiapan diri untuk memberikan kontribusi dalam pendidikan dan syiar Islam,” tuturnya.

Setelah rangkaian sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi inti berupa Seminar Beasiswa Indonesia Bangkit yang menghadirkan Widodo Febri Utomo, M.Pd. selaku Pengurus Nasional Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) sebagai narasumber dan dipandu oleh Rizka Febri Melindasari, S.Pd. selaku moderator.

Widodo Febri Utomo, M.Pd. selaku narasumber memaparkan materi mengenai alur dan proses seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit, mulai dari jalur pendaftaran hingga tahapan seleksi wawancara. Peserta juga diajak memahami strategi menghadapi seleksi melalui pembahasan beberapa contoh soal akademik.

“Seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit bukan hanya tentang melengkapi persyaratan administrasi, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri dalam menghadapi setiap tahapan seleksi. Mulai dari penugasan, tes akademik, hingga wawancara, semuanya memerlukan strategi dan kesiapan yang matang agar peluang lolos bisa lebih besar,” jelasnya.

Usai seminar Beasiswa Indonesia Bangkit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dokumentasi, dan foto bersama. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan moderator serta pengumuman juara dan penyerahan hadiah kepada para pelajar peserta Olimpiade Cendekiawan Muslim (OCM).

Penulis : Alan Tsalits Kholifatustsani

HMJ PAI Selenggarakan Workshop Insight, Bekali Mahasiswa Keterampilan Media Pembelajaran Digital

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan WORKSHOP INSIGHT (Workshop Innovation and Smart Technology for Education) pada Selasa (28/04) bertempat di Gedung Teater Soshum Lantai 3 Kampus 3 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Jurusan PAI, delegasi ormawa dan kelas, serta pengurus HMJ PAI.

Alan Tsalits Kholifatustsani, selaku ketua pelaksana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Workshop Insight bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam membuat media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

“Tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai bagaimana cara membuat media pembelajaran yang kreatif, inovatif dan relevan di zaman sekarang, sehingga nantinya kita semua sebagai calon pendidik tentunya agar bisa menciptakan pembelajaran yang interaktif,” ungkapnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Jurusan PAI, Hj. Zulaikha, M.Ag., M.Pd., beliau menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi secara bijak di era digital untuk mendukung kemajuan pendidikan.

“Workshop Insight ini sangat penting untuk kebutuhan kita karena kita hidup diera digital, kita tidak bisa menutup mata apalagi sama sekali tidak memanfaatkan era ini untuk kemajuan dan kemaslahatan kita sebagai pendidik,”

Memasuki acara inti, Khoirul Umam selaku moderator membuka rangkaian pelatihan Workshop dengan tema “Digital Litercy for Islamic Educators: Membangun Media Pembelajaran yang Kreatif dan Adaptif”.

Arfian Hidayat selaku pemateri mengawali pemaparan tentang pentingnya inovasi media pembelajaran di era digital, khususnya dalam pembelajaran agama.

“Kalau pembelajaran agama masih hanya mengandalkan ceramah di era digital, maka yang terjadi bukan pemahaman, tapi kejenuhan, karena itu guru harus kreatif memanfaatkan media agar belajar jadi bermakna dan menyenangkan, salah satunya dengan media pembelajaran interaktif.” Jelasnya.

Pemaparan dilanjutkan dengan praktik berbagai game edukasi seperti WaygroundWordwall, dan Zep Quiz sebagai media pembelajaran interaktif.

Dalam sesi praktik, narasumber tidak hanya memperkenalkan fitur utama setiap platform, tetapi juga mengajak peserta untuk langsung membuat dan menggunakan game edukasi. Peserta turut mencoba mengerjakan hingga menyusun kuis secara mandiri, sehingga memperoleh gambaran praktis mengenai pemanfaatan media digital interaktif untuk meningkatkan keterlibatan dan efektivitas pembelajaran.

Usai pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, beberapa peserta mengajukan pertanyaan kepada pemateri, sehingga diskusi berlangsung dengan cukup interaktif.

Setelah sesi tanya jawab berakhir, rangkaian kegiatan workshop ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama.

Penulis : Tiara Okta Fitriani 

PAI UIN Walisongo Gelar Program “PAI Mengajar” di TPQ Al-Ghofur Ngaliyan

Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan TPQ Al-Ghofur Ngaliyan menggelar kegiatan PAI Mengajar dengan tema “Menebar Ilmu, Menanam Iman, Membangun Generasi Qur’ani Masa Depan”.

Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam membangun karakter dan akhlak mulia bagi para santri TPQ Al-Ghofur, Senin (20/4).

​Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 20 hingga 23 April ini, merupakan wujud nyata komitmen PAI UIN Walisongo dan TPQ Al-Ghofur dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam serta pembentukan karakter anak sejak dini.

​Ketua Pelaksana Program, Akbar Daffa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan baru sekaligus menjadi bekal kebaikan bagi santri di masa depan.

“Kegiatan ini merupakan langkah kecil dari kepedulian kita dalam berbagi ilmu dan kebaikan. Melalui kebersamaan ini, semoga kita dapat menebarkan nilai-nilai positif serta memberikan manfaat bagi sesama,” tuturnya.

​Rois Ali Maksum, S.Pd.I., selaku Kepala TPQ Al-Ghofur, turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kerja sama serta dedikasi para mahasiswa.

“Semoga ilmu yang dipraktikkan nanti bisa bermanfaat bagi semuanya, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cinta Al-Qur’an. Semoga program PAI Mengajar ini berjalan dengan sebaik-baiknya dan penuh berkah,” ucapnya.

Dalam program ini, para relawan mahasiswa PAI terjun langsung mengajarkan berbagai materi keagamaan. Sebagai penutup rangkaian kegiatan di hari terakhir, acara diakhiri dengan pemberian hadiah (reward) bagi para santri yang aktif selama mengikuti pembelajaran.

Penulis : Lana Husnunnihayah

Kunjungi Ponpes Raudhatul Huffadz Tabanan, Prodi PAI UIN Walisongo Gali Strategi Dakwah di Bali

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pondok Pesantren Raudhatul Huffadz, Tabanan, Bali. Acara yang berlangsung khidmat ini dibuka dengan pembacaan Ummul Kitab, Al-Fatihah.

Dalam sambutannya, Sekretaris Jurusan PAI UIN Walisongo, Dr. Aang Kunaepi, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis bagi mahasiswa untuk mempelajari peran nyata pesantren di tengah masyarakat yang heterogen.

“Harapan kami, barangkali teman-teman mahasiswa mendapatkan sesuatu ilmu dari pesantren Raudhatul Huffadz. Kedatangan kami ke sini tentunya ingin mendapatkan wawasan mengenai peranan ponpes ini dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman,” ungkapnya.

Menyambut hangat kedatangan rombongan, Gus Khairun Ni’am mewakili keluarga besar Pondok Pesantren Raudhatul Huffadz menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan pihak kampus yang rutin menjalin silaturahmi. Beliau juga memaparkan bagaimana harmoni umat beragama di Bali tetap terjaga.

“Muslim di sini merupakan mayoritas penduduk kedua di Bali. Harmoni yang turun ke kita dan ajaran-ajaran yang disebarkan oleh leluhur kami ini sangat berarti dan sangat dijaga dari dulu hingga sekarang. Kami sangat berterima kasih tempat kami yang sederhana ini sering dikunjungi oleh pihak UIN,” ujar Gus Khairun Ni’am.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Dalam sesi tersebut, Gus Khairun Ni’am memaparkan sejarah panjang berdirinya pondok pesantren hingga memberikan tips dan trik khusus bagi mahasiswa mengenai metode menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Kunjungan ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. H. Mustopa, M.Ag dengan harapan agar silaturahmi dan kolaborasi akademik ini terus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak di masa depan.

Penulis: Lana Husnunnihayah

PAI UIN Walisongo Lakukan Kunjungan ke UNUJA dalam kegiatan Visiting Lecturer & Student Mobility

Program Studi Pendidikan Agama Islam (Prodi PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan Visiting Lecturer & Student Mobility bertajuk “Membumikan Eko Teologi di Lingkungan Kampus dan Pesantren; Menegaskan Peran Manusia sebagai Khalifah Fil Ard” di Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Probolinggo, Jawa Timur pada Sabtu (11/4/26).

Acara ini dihadiri oleh Para dosen PAI dan FAI, serta seluruh mahasiswa PAI yang mengikuti kegiatan KKL.

Kepala Jurusan FAI UNUJA, Dr. Ahmad Munif, M.Ag. mengucapkan selamat datang serta merasa sangat terhormat atas kedatangan mahasiswa UIN Walisongo.

“Selamat datang di UNUJA, kami merasa sangat terhormat, karena seringnya yang bertamu kesini dari kampus swasta, tetapi sekarang kedatangan tamu dari kampus negeri, dan semoga setelah kunjungan ini bisa ada follow di bidang penelitian juga pengabdian di masyarakat,” tuturnya.

Selanjutnya Kepala Jurusan PAI, Prof. Dr. Fihris M.Ag. menyampaikan rasa terima kasih terhadap pihak UNUJA yang telah menerima kunjungan kami yang notabenenya rombongan besar, serta berharap kunjungan ini membawa manfaat.

“Terima kasih tiada terhingga terhadap UNUJA yang telah menerima kami, yang notabenenya rombongan besar. Saya berharap kunjungan kami akan membawa manfaat dan wacana yang fresh untuk seluruh mahasiswa,” jelasnya.

Kemudian acara ditutup dengan penyerahan cendera mata dan doa.

Penulis : Wildan Mukhlisin (Kominfo HMJ PAI UIN Walisongo Semarang)

HMJ PAI UIN Walisongo Selenggarakan Diskusi Online, Soroti Progam Gizi hingga Kompetensi Guru untuk Pendidikan Berkualitas

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang menyelengarakan diskusi online bertajuk “Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru” Pada Sabtu (07/03).

Pertemuan virtual yang dimulai pukul 14.30 WIB dibuka oleh Akbar Dafa Al Fikri selaku pemandu jalannya acara, diskusi dipimpin oleh Muhammad Amar Akbarudin sebagai moderator dan diskusi diawali dengan pemaparan pengantar dari Fat Maulana untuk membuka arah pembahasan.

Selain pengurus HMJ PAI, forum ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam jaringan Republik Besan dan Forsima PAI Jawa Tengah. 

Endy Prima Yusena selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu hingga terselenggarakannya diskusi online. Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi yang terjalin menjadi bukti bahwa kerja sama dan kebersamaan dapat melahirkan kegiatan yang bermanfaat.

“Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak, yang telah mendukung terselenggarakannya kegiatan ini khususnya kepada Republik Besan dan Forsima yang telah berkolaborasi bersama, mensukseskan acara ini. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa melalui kerjasama dan kebersamaan kita dapat menghadirkan kegiatan yang bermanfaat serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk diskusi, bertukar pikiran dan menambah wawasan.”

Ketua umum HMJ PAI, Muhammad Aidil Maghfur dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi online kali ini mengangkat tema yang relevan dan masih hangat diperbincangkan.

“Pada diskusi online siang hari ini kita mengangkat tema yang sangat luar biasa, yang masih hangat diperbincangkan, isu isu yang sangat hangat untuk kita diskusikan dan kita menambah wawasan baru dan ilmu baru nantinya dengan tema ini. Dengan tema Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru.”

Muhammad Dzakil Fikri selaku perwakilan Republik Besan berharap diskusi ini tidak sekedar menjadi ruang bicara biasa, tetapi diharapkan mampu melahirkan gagasan yang bermanfaat. 

“Diskusi pada siang hari ini bukanlah diskusi yang hanya sebagai omong-omong biasa, tetapi hasil dari diskusi ini nantinya dapat kita buat dan kita rangkai menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang mana inshaallah nantinya bisa menginspirasi.”

Dilanjutkan sambutan oleh perwakilan dari Forsima PAI Jawa Tengah, Akmal Rizka Wardana mengucapkan terimakasih kepada HMJ PAI UIN Walisongo atas ajakan kolaborasinya.

“Melihat tantangan-tantangan, apakah pendidikan akan ditunjang dengan gizi yang baik atau cukup dengan perbandingan guru yang lebih baik. Sekali lagi dari forsima sangat berterimakasih atas ajakan kolaborasi dari HMJ PAI UIN Walisongo.”

Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan gagasan dari Fat Maulana yang membahas topik Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru. Dalam pemaparannya, Fat Maulana menyampaikan keterkaitan antara aspek gizi dan pendidikan dalam membangun kualitas sumber daya.

“Jika kita berbicara tentang gizi, tentu akan ada 2 aspek yang perlu disebut. Pertama pendekatan kesehatan, pendidikan berkualitas dimulai dari anak yang sehat dan cukup gizi. Apakah ini statment yang dapat kita terima seutuhnya, atau dapat kita setujui? Belum tentu. Karna ada statment kedua yakni pendekatan pendidikan berkualitas dimulai dari guru yang berkompeten dan sistem pembelajaran yang baik. Artinya dua aspek ini bersinggungan secara erat dan tidak bisa dipisahkan , antara gizi dan juga pendidikan. Namun, mana yang lebih diprioritaskan sekarang?.”

Pemantik menjelaskan bahwa stunting dapat dicegah secara efektif pada masa 1000 hari pertama kehidupan atau segera setelah bayi dilahirkan. Ia memperingatkan bahwa kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi pada periode emas tersebut, anak beresiko tinggi mengalami stunting. Oleh karena itu, ia menekankan agar pemerintah memberikan fokus utama pada pemenuhan gizi ini. 

Selain persoalan gizi, ia juga menyoroti permasalahan dalam sektor pendidikan, khususnya terkait kualitas dan distribusi guru di Indonesia. Menurutnya meskipun jumlah guru banyak, masalah utama terletak pada rendahnya kualifikasi dan kompetensi. Ia mencatat masih banyak guru yang belum memiliki sertifikasi atau keterampilan spesifik yang dibutuhkan untuk menunjang kualitas pendidikan. 

Ia menambahkan bahwa dalam teori pendidikan, guru merupakan faktor yang paling menentukan kualitas pembelajaran. Guru tidak hanya mengajar, tetapi berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta pengembangan kemampuan kritis dan literasi siswa. Merujuk pada berbagai penelitian, ia menegaskan bahwa kualitas guru adalah faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap capaian pembelajaran (learning outcomes), sehingga sektor pendidikan dianggap memiliki peran krusian yang bahkan dimulai sebelum persoalan gizi. 

Di akhir pemaparannya, ia menyampaikan pesan bahwa pada dasarnya setiap program akan memberikan manfaat jika dijalankan dengan sistem dan tata kelola yang baik serta tidak merugikan pihak mana pun.

Sebagai penutup, ia mengutip sebuah pernyataan dari Malala Yousafzai serta filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara.

“Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena mampu mengubah dunia, seperti filosofi Ki Hajar Dewantara pula sertiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru, dari ruang belajar yang luas itulah kita membentuk generasi masa depan yang kita bentuk dengan 3A diasah pikirannya untuk mencerdaskan, diasihi hatinya untuk menguatkan dan diasuh kehidupannya untuk menghidupkan.”

Diskusi diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan penuh antusias dari para peserta hingga penutup kegiatan.

Penulis : Tiara Okta Fitriani 

HMJ PAI Gelar Acara IHNA (Ihtifal Nuzulul Qur’an) dan Talk Show Qur’ani serta Buka Bersama dengan Mahasiswa PAI UIN Walisongo Semarang

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (HMJ PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menyelenggarakan acara IHNA (Ihtifal Nuzulul Qur’an) dengan tema “Relevansi Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan Generasi Muda” pada Sabtu (28/02) bertempat di Aula Dekanat Lantai 3 Kampus 2 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Nuzulul Qur’an dan memperkuat pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an di bulan Ramadan. Kegiatan meliputi Sima’an Bil GhoibTalkshow Qur’ani, dan Buka Puasa Bersama. Acara ini dihadiri oleh peserta delegasi kelas dan pengurus HMJ PAI. 

Kegiatan diawali dengan Sima’an Bil Ghoib hingga khataman dan doa bersama, kemudian dilanjutkan salat Ashar berjamaah. Sesi talkshow dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum rangkaian sambutan dan pemaparan materi.

Selia Arkhamia selaku Ketua Pelaksana menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan IHNA serta berharap kegiatan ini menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di lingkungan PAI.

“Terima kasih kepada seluruh tamu undangan, para hafiz dan hafizah, serta panitia yang telah berkontribusi dalam menyukseskan IHNA ini. Semoga kegiatan ini semakin menumbuhkan kecintaan kita terhadap Al-Qur’an dan melahirkan generasi Qur’ani yang dapat membawa kemajuan bagi Jurusan PAI,” ujarnya.

Aidil Maghfur selaku Ketua HMJ PAI juga menyampaikan apresiasi kepada peserta yang hadir serta mengingatkan pentingnya merelevansikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita tidak boleh terbawa arus, tetapi harus tetap berada di jalan yang benar dengan merelevansikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Ilmu yang tidak dimanfaatkan bagaikan pohon tanpa buah,” ungkapnya.

Ibu Prof. Fihris selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam menekankan pentingnya menjaga diri dan bergaul dengan baik agar tidak terjerumus pada hal-hal negatif di lingkungan kampus serta menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan memperkuat akhlak.

“Melalui kegiatan ini, saya mengingatkan agar kita semua mampu menjaga diri masing-masing dan tidak mudah terjerumus dalam pergaulan atau tindakan yang merugikan. Momentum Nuzulul Qur’an seharusnya mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap berada di jalan yang benar,” tuturnya.

Bapak Ali Imron selaku narasumber menjelaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an perlu diterapkan dalam kehidupan akademik dan sosial agar mahasiswa mampu menjadi pribadi berakhlak mulia dan agen perubahan di masyarakat.

“Penerapan nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an bertujuan membentuk pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan berkontribusi positif. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup, petunjuk, sumber etika, dan landasan moral. Ketika nilai-nilai ini diterapkan, generasi muda dapat menjadi agen of change yang memberi pengaruh baik di masyarakat dan tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Mahasiswa juga harus semangat dalam literasi dan riset penelitian,” jelasnya.

Sesi talkshow ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Ali Imron selaku narasumber, kemudian dilanjutkan dengan penutup oleh pembawa acara. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan salat Magrib berjamaah dan diakhiri dengan buka puasa bersama.

Penulis: Alan Tsalits Kholifatustsani

Dobrak Stigma, Mahasiswa PAI UIN Walisongo Faldin Fahza Dilantik Jadi Komite Strategis Kadin Kota Depok

Anggapan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya berkutat di ranah religius berhasil dipatahkan oleh Faldin Fahza Alfaizi. Mahasiswa semester 8 International Class Program (ICP) PAI UIN Walisongo Semarang ini resmi dilantik sebagai Komite Tetap Komunikasi Organisasi dan Go Public Investasi Dalam Negeri dan Investasi Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Depok.

Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Walikota Depok, Supian Suri, S.E., M.M. Pencapaian ini menjadi catatan sejarah tersendiri, mengingat Faldin berhasil menembus struktur organisasi pengusaha papan atas tersebut di tengah kesibukannya menyelesaikan studi.

Mengemban Misi Investasi dan Konektivitas dalam jabatan barunya, Faldin memegang tanggung jawab strategis yang menjadi jembatan antara dunia usaha dan investasi. Berdasarkan tupoksi organisasi, Faldin akan berfokus pada pembangunan konektivitas dengan berbagai lembaga untuk pemanfaatan dana CSR serta menciptakan database potensi peluang investasi usaha di Kota Depok.

Keterlibatan Faldin di Kadin Kota Depok menjadi bukti nyata bahwa kurikulum dan pembinaan di UIN Walisongo mampu mencetak lulusan yang adaptif. Meski berlatar belakang pendidikan agama, Faldin menunjukkan ketangguhan dalam memahami dinamika investasi dan komunikasi organisasi.

Kemandirian dan disiplin yang ia bentuk selama kuliah di kelas International Class Program (ICP) menjadi modal penting dalam menjalankan peran ganda sebagai mahasiswa tingkat akhir dan fungsionaris organisasi profesional. Seperti halnya tokoh inspiratif kampus lainnya yang mampu menyeimbangkan peran akademik dan sosial, Faldin membuktikan bahwa batasan jurusan bukanlah penghalang untuk berkarya di sektor ekonomi.

Bagi Faldin, kesempatan ini adalah ladang ibadah sekaligus pembuktian kualitas diri. Ia ingin memotivasi rekan-rekannya agar tidak rendah diri dengan latar belakang program studi yang diambil.

“Jadilah insan yang selalu berikhtiar maksimal. Saya membuktikan bahwa mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang dapat bersaing di dunia usaha, salah satunya dengan bergabung dan dilantik di Kamar Dagang dan Industri Kota Depok,” ungkapnya.

Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus mengeksplorasi potensi diri di luar batas-batas akademik konvensional demi memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Penulis: Lana Husnunnihayah

Organisasi dan Prestasi Akademik Berjalan Selaras, Nazih Sadatul Kahfi Raih Wisudawan Terbaik S2 FTIK

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Nazih Sadatul Kahfi, mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Magister (S-2) pada prosesi wisuda yang berlangsung Sabtu, 7 Februari 2026.

Nazih menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Ia menegaskan bahwa sejak awal perkuliahan tidak pernah menjadikan predikat wisudawan terbaik sebagai target utama, melainkan fokus pada proses belajar yang optimal.

“Saat pertama kali mendengar pengumuman sebagai wisudawan terbaik, saya menyambutnya dengan sujud syukur. Perasaan saya campur aduk antara terkejut, bahagia, dan haru. Pencapaian ini merupakan buah dari komitmen dan kesungguhan dalam menjalani seluruh proses perkuliahan,” ungkapnya.

Orang pertama yang ia kabari atas capaian tersebut adalah istri dan orang tua. Menurut Nazih, dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya. Ia menyebut do’a dan dorongan moral dari keluarga sebagai penguat utama dalam menghadapi berbagai tantangan perkuliahan.

Bagi Nazih, gelar Wisudawan Terbaik tidak dimaknai sekadar sebagai capaian angka akademik. Predikat tersebut dipandang sebagai bukti atas dedikasi, kerja keras, serta proses panjang yang dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Dalam bidang akademik, Nazih menyelesaikan tesis berjudul “Pengembangan Video Animasi 3D dengan Plotagon Story untuk Meningkatkan Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran PAI-BP di SMP.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Media pembelajaran yang inovatif diperlukan agar siswa lebih terlibat aktif, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman,”  jelasnya.

Dalam menjalani perkuliahan, Nazih menerapkan manajemen waktu yang teratur dan berorientasi pada proses. Ia mengaku lebih memilih belajar secara konsisten, meskipun pada situasi tertentu harus berhadapan dengan tenggat waktu yang ketat.

Konsep Unity of Sciences yang menjadi visi UIN Walisongo turut memengaruhi pendekatan akademiknya. Dalam penulisan tesis, Nazih memadukan ilmu pendidikan, teknologi, dan nilai-nilai agama sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.

Selain berprestasi secara akademik, Nazih juga aktif dalam berbagai organisasi selama menempuh studi S-2. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Koordinator Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Bendahara IKA-PMII, Koordinator Pengembangan Organisasi ISNU, serta Relawan Masjid Berdampak Kementerian Agama RI.

Menanggapi anggapan bahwa keterlibatan organisasi dapat menurunkan prestasi akademik, Nazih menilai pandangan tersebut perlu diluruskan.

“Dengan manajemen waktu yang baik, kegiatan akademik dan organisasi dapat berjalan beriringan serta saling mendukung,” tegasnya.

Tak hanya berprestasi di dalam kampus, Nazih memperluas cakrawala keilmuannya melalui program Student Mobility ke Malaysia dan Singapura, serta aktif dalam berbagai konferensi internasional.

​Di balik kesuksesan tersebut, ia harus berjuang membagi waktu antara tanggung jawab akademik, amanah sebagai Awardee LPDP-BIB, hingga dedikasinya sebagai marbot masjid. Pengalaman ini membentuk kedisiplinan dan ketahanan pribadinya dalam menjalani peran ganda.

“Prestasi tidak semata-mata diukur dari capaian akademik, tetapi dari sejauh mana ilmu yang dimiliki dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya sebagai pesan penutup bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Penulis: Alan Tsalits Kholifatustsani