LPM UIN Walisongo Gelar FGD Kebijakan dan Arah Pengembangan Akreditasi LAMGAMA untuk Penguatan Mutu Pendidikan Tinggi

Semarang, 22 September 2026 – Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Walisongo Semarang kembali melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi para pimpinan sekaligus memperkuat budaya mutu di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 22 September 2026 tersebut diikuti oleh unsur pimpinan fakultas, program studi, Gugus Penjaminan Mutu (GPM), serta tim LPM.

Kegiatan berlangsung pukul 13.00–16.00 WIB di Ruang Teater Lantai IV Gedung ICT Center UIN Walisongo Semarang. Kaprodi, Sekprodi, dan para pimpinan unit yang program studinya berada dalam cakupan Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan dan Keagamaan (LAMGAMA) menjadi bagian dari peserta yang diundang dalam kegiatan tersebut.

FGD mengangkat tema “Kebijakan dan Arah Pengembangan Akreditasi LAMGAMA dalam Penguatan Mutu Pendidikan Tinggi” dengan narasumber Prof. Dr. Najahan Musyafak, M.A., Dewan Eksekutif LAMGAMA. Forum ini menjadi ruang bagi para pimpinan untuk memperoleh informasi dan pemahaman terkini mengenai kebijakan, kriteria, indikator, prosedur asesmen, serta arah pengembangan sistem akreditasi LAMGAMA.

Dalam materi yang disampaikan, IAPS 1.0 LAMGAMA diarahkan tidak semata-mata sebagai instrumen untuk menetapkan status akreditasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun budaya mutu dan penjaminan mutu eksternal yang berkelanjutan. Penilaian memiliki orientasi tidak hanya sumatif, tetapi juga formatif sehingga hasil asesmen dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dan program studi untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Materi FGD juga membahas empat kriteria utama dalam arsitektur IAPS 1.0 LAMGAMA, yaitu Diferensiasi Misi, Akuntabilitas, Budaya Mutu, dan Relevansi. Keempat kriteria tersebut diarahkan untuk melihat keterhubungan antara masukan, proses, luaran atau capaian, dan dampak dari penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Aspek Budaya Mutu menjadi salah satu perhatian penting dalam diskusi. Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk dokumen, tetapi harus terlihat dalam implementasi siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) serta didukung bukti kinerja yang sahih. Implementasinya mencakup antara lain kurikulum dan pembelajaran, asesmen capaian pembelajaran lulusan, pelaporan yang tervalidasi, evaluasi, serta tindak lanjut perbaikan.

Selain itu, FGD memberikan pemahaman mengenai pentingnya orientasi outcome dan impact dalam penilaian akreditasi. IAPS 1.0 menetapkan bobot penilaian yang terdiri atas masukan sebesar 25%, proses 35%, luaran 20%, dan dampak 20%. Dengan demikian, program studi perlu memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada pemenuhan dokumen, tetapi dapat menunjukkan capaian, luaran, dan dampak yang terukur. Bagi pimpinan program studi, forum ini menjadi momentum penting untuk meng-update informasi, mendiskusikan implikasi kebijakan, mengidentifikasi kebutuhan penguatan mutu, serta menyiapkan tindak lanjut di tingkat unit kerja masing-masing. Dengan pemahaman yang lebih mutakhir mengenai arah akreditasi LAMGAMA, program studi diharapkan dapat melakukan penyesuaian secara lebih terarah terhadap tata kelola, pelaksanaan tridharma, dokumentasi kinerja, serta sistem penjaminan mutu.

FGD juga menegaskan bahwa persiapan akreditasi perlu dibangun melalui ketersediaan bukti yang sahih, data yang konsisten, capaian yang terukur, dampak atau rekognisi eksternal, serta perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan pesan utama materi FGD bahwa akreditasi bukan sekadar upaya memperoleh status, melainkan bagian dari proses membangun mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan FGD yang dilaksanakan secara rutin oleh LPM, diharapkan terjadi kesinambungan antara kebijakan penjaminan mutu di tingkat universitas, fakultas, dan program studi. Forum diskusi semacam ini sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat koordinasi dan kesiapan para pimpinan dalam merespons perkembangan kebijakan akreditasi serta menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah peningkatan mutu yang konkret di unit masing-masing. Dengan demikian, kegiatan FGD tidak berhenti sebagai forum penyampaian informasi, tetapi menjadi bagian dari siklus pembelajaran organisasi, penguatan kapasitas pimpinan, dan tindak lanjut penjaminan mutu menuju penyelenggaraan pendidikan tinggi yang semakin akuntabel, relevan, dan berorientasi pada capaian serta dampak.

PAI dan MPI Perkuat Kearifan Lokal melalui Takziah dan Solidaritas Keluarga Besar FITK

Semarang, 16 September 2026 — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) menunjukkan komitmen dalam merawat kearifan lokal dan memperkuat solidaritas antarwarga melalui kegiatan takziah. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan mengunjungi keluarga sivitas akademika yang sedang berduka di Demak dan Jepara.

Rombongan takziah terdiri atas Zulaikhah, Kaprodi PAI dan juga sekaligus dosen Prodi PGMI; M. Syakur, Sekprodi PAI; Baqiatus Solihah, Sekprodi MPI; Wakil Dekan II Prof. Fihris; Wakil Dekan III Dr. Karnadi; serta Kabag TU FTIK, Siti Khotimah. Rombongan bertakziah ke kediaman keluarga almarhum Bapak Nasrun, ayahanda Dr. Nur Abadi, di Jepara. Rombongan juga berkunjung ke kediaman keluarga almarhumah Ibu Maslihah, ibunda Dr. Magfurin, Kepala Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, di Demak. Kegiatan takziah tersebut bukan sekadar kunjungan untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi sosial-keagamaan yang telah tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa dan lingkungan pesantren, takziah menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian sosial, penghormatan kepada keluarga yang berduka, sekaligus sarana mempererat hubungan antarsesama.

Bagi keluarga besar PAI dan MPI, praktik tersebut memiliki makna penting karena nilai-nilai pendidikan Islam tidak hanya diwujudkan melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sosial. Kehadiran pimpinan fakultas dan pengelola program studi di tengah keluarga yang berduka menjadi bentuk nyata bahwa hubungan akademik tidak berhenti pada urusan administratif dan profesional, tetapi juga dibangun melalui kepedulian, empati, dan persaudaraan.

Takziah sebagai Wujud Empati dan Solidaritas

Makna utama takziah yang dilakukan rombongan adalah mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan rasa empati, serta menjadi pengingat akan hakikat kematian. Kehadiran secara langsung di tengah keluarga yang sedang berduka memberikan dukungan psikologis dan sosial bahwa keluarga tersebut tidak menghadapi masa duka seorang diri. Takziah juga memiliki dimensi tasliyah, yaitu memberikan penghiburan dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kehadiran, doa, perhatian, maupun bantuan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Dalam kehidupan sosial masyarakat, solidaritas semacam ini juga memiliki fungsi penting. Keluarga yang sedang mengalami musibah membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya, baik dalam bentuk moril maupun materil. Karena itu, takziah menjadi ruang untuk menghadirkan kepedulian secara nyata sekaligus meringankan beban sosial yang mungkin dirasakan oleh keluarga yang berduka. Selain memberikan penguatan kepada keluarga, takziah juga menjadi momentum untuk mendoakan almarhum dan almarhumah serta mengingatkan setiap orang yang hadir bahwa kematian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Merawat Kearifan Lokal di Lingkungan Akademik

Kegiatan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak selalu berbentuk tradisi atau ritual budaya, tetapi juga dapat hadir dalam praktik sosial yang mengandung nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kepedulian. Takziah merupakan salah satu praktik sosial-keagamaan yang hidup dalam masyarakat dan memiliki fungsi untuk menjaga hubungan antarmanusia ketika menghadapi peristiwa duka. Bagi lingkungan perguruan tinggi Islam, merawat praktik tersebut menjadi relevan dengan misi pendidikan yang menempatkan pembentukan karakter dan akhlak sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Nilai empati, kepedulian, silaturahmi, gotong royong, dan penghormatan terhadap keluarga yang berduka merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkan melalui keteladanan langsung.

Kehadiran pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris program studi, serta tenaga kependidikan -Zulaikhah (Kaprodi PAI), M. Syakur (Sekprodi PAI), Baqiatus Solihah (Sekprodi MPI), serta pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Bapak WD 1, Bapak Dr. Karnadi, Ibu WD 2, Ibu Prof. Fihris, dan Kabag TU  Ibu Siti Khotimah- dalam kegiatan takziah juga memperlihatkan adanya budaya kekeluargaan di lingkungan FITK. Solidaritas tidak hanya dibangun dalam kegiatan akademik, tetapi juga dalam momentum-momentum sosial yang menyentuh kehidupan personal warga kampus.

Menguatkan Tradisi, Menghidupkan Nilai

Di tengah kehidupan akademik yang semakin dinamis, tradisi takziah menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan antara profesionalitas dan kemanusiaan. Perguruan tinggi bukan hanya ruang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan nilai dan membangun hubungan sosial yang bermakna.

Kegiatan takziah PAI dan MPI menjadi pengingat bahwa ilmu, nilai keislaman, dan kehidupan sosial dapat berjalan beriringan. Nilai kepedulian tidak cukup hanya diajarkan, tetapi perlu dihadirkan melalui tindakan nyata.

Melalui kegiatan tersebut, PAI dan MPI FITK turut merawat kearifan lokal yang telah hidup dalam masyarakat sekaligus memperkuat semangat silaturahmi, empati, solidaritas, dan kepedulian sosial di lingkungan keluarga besar perguruan tinggi. Takziah akhirnya bukan hanya tentang hadir ketika seseorang meninggal dunia, tetapi juga tentang hadir bagi mereka yang ditinggalkan—menguatkan, mendoakan, dan menunjukkan bahwa dalam sebuah komunitas, duka seseorang adalah bagian dari kepedulian bersama.

Fakultas Matangkan Persiapan Akreditasi Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam

Semarang, 15 September 2026 — Fakultas menggelar rapat koordinasi dalam rangka mematangkan persiapan akreditasi Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Rapat dihadiri seluruh pimpinan dekanat, pimpinan Prodi dari S1 PAI, PBA, MPI, PBI, PGMI, PIAUD dan tendik ini berlangsung pada Selasa, 15 September 2026, membahas berbagai aspek strategis yang perlu dipersiapkan menjelang proses asesmen dan visitasi akreditasi. Rapat menekankan pentingnya kesiapan seluruh unsur fakultas dan program studi, baik dari sisi dokumen, data, sumber daya manusia, fasilitas, maupun koordinasi antarunit. Dekan menyampaikan beberapa hal yang perlu segera ditindaklanjuti, antara lain review borang dan dokumentasi, kesiapan ruang penerimaan asesor, serta penyiapan ruang, perpustakaan fakultas dan pusat, serta laboratorium. Selain itu, sinkronisasi data antar lembaga menjadi salah satu perhatian utama. Kesiapan data yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan dipandang penting untuk mendukung kelancaran proses asesmen.

Dari Program Studi S1 MPI disampaikan bahwa borang akreditasi telah disubmit dan program studi telah berkomunikasi dengan asesor dari Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Program studi juga tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis, termasuk akomodasi asesor, koordinasi kehadiran alumni yang memiliki profesi linier dengan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam, serta kesiapan fasilitas laboratorium dan microteaching. Kesiapan data pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) juga menjadi perhatian. Program studi perlu memastikan adanya sinkronisasi data dosen antara program studi dan PTIPD. Di samping itu, pelaksanaan PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) perlu dipersiapkan dengan bukti-bukti konkret yang dapat ditunjukkan saat visitasi.

Dalam pembahasan mengenai persyaratan khusus untuk memperoleh predikat unggul, program studi memaparkan sejumlah aspek yang menjadi perhatian, antara lain kualifikasi dan jabatan akademik dosen, rasio dosen, karya ilmiah, karya mahasiswa, serta evaluasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan kurikulum. Dokumen mencatat bahwa persyaratan tersebut perlu diperkuat dengan bukti pendukung yang relevan.

Wakil Dekan I menegaskan agar persiapan difokuskan pada borang sebagai salah satu dokumen utama dalam proses akreditasi. Program studi juga memastikan keterkaitan antara CPL dengan profil lulusan serta tersedianya evaluasi CPL berdasarkan masukan mahasiswa dan pengguna lulusan beserta dokumen pendukungnya.

Sementara itu, Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) memberikan sejumlah arahan teknis terkait pelaksanaan visitasi. Tempat pembukaan dan lokasi visitasi perlu dipersiapkan dengan baik. Dalam visitasi lapangan, tim yang bertugas harus mampu menampilkan poin atau dokumen yang diminta asesor secara cepat dan tepat. Karena itu, perlu disiapkan dua hingga tiga orang yang benar-benar memahami isi borang dan mampu menunjukkan dokumen pendukung yang diperlukan.

LPM juga menekankan pentingnya kesiapan laman web fakultas dan program studi, khususnya dalam menampilkan informasi terkait PPEPP. Program studi diminta menyiapkan contoh konkret pelaksanaan PPEPP sebagai bukti implementasi sistem penjaminan mutu.

Aspek survei juga menjadi bagian pembahasan. Survei yang selama ini dilakukan secara rutin oleh LPM di tingkat universitas perlu displit dan diolah sesuai dengan kondisi masing-masing program studi. Data penjaminan mutu dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris juga telah tersedia pada laman LPM yang bersifat umum. Dari sisi teknologi informasi, PTIPD menyampaikan bahwa data yang telah tersaji pada PDDikti merupakan data yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, penyajian data seperti akun dan informasi terkait perlu dipersiapkan di tingkat program studi dengan petugas khusus yang bertanggung jawab. PTIPD juga menyatakan kesiapan memberikan informasi mengenai infrastruktur yang berada di bawah kewenangannya apabila diperlukan selama proses visitasi.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). PTIPD mencatat bahwa OBE telah diimplementasikan sejak 2025 sehingga perlu dipastikan sejauh mana CPL telah dicapai dan bagaimana bukti pencapaiannya dapat ditunjukkan dalam proses asesmen. Rapat koordinasi ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan seluruh komponen pendukung akreditasi Program Studi S1 Manajemen Pendidikan Islam berada dalam kondisi siap. Sinergi antara fakultas, program studi, LPM, PTIPD, serta unit terkait lainnya diharapkan dapat memperkuat kesiapan menghadapi asesmen dan visitasi akreditasi.

Dengan persiapan dokumen yang matang, data yang sinkron, fasilitas yang siap, serta tim yang memahami substansi borang dan mampu memberikan bukti secara cepat dan tepat, seluruh unsur terkait terus melakukan koordinasi untuk mendukung kelancaran proses akreditasi Program Studi S1 MPI