PAI dan MPI Perkuat Kearifan Lokal melalui Takziah dan Solidaritas Keluarga Besar FITK

Semarang, 16 September 2026 — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) menunjukkan komitmen dalam merawat kearifan lokal dan memperkuat solidaritas antarwarga melalui kegiatan takziah. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan mengunjungi keluarga sivitas akademika yang sedang berduka di Demak dan Jepara.

Rombongan takziah terdiri atas Zulaikhah, Kaprodi PAI dan juga sekaligus dosen Prodi PGMI; M. Syakur, Sekprodi PAI; Baqiatus Solihah, Sekprodi MPI; Wakil Dekan II Prof. Fihris; Wakil Dekan III Dr. Karnadi; serta Kabag TU FTIK, Siti Khotimah. Rombongan bertakziah ke kediaman keluarga almarhum Bapak Nasrun, ayahanda Dr. Nur Abadi, di Jepara. Rombongan juga berkunjung ke kediaman keluarga almarhumah Ibu Maslihah, ibunda Dr. Magfurin, Kepala Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, di Demak. Kegiatan takziah tersebut bukan sekadar kunjungan untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi sosial-keagamaan yang telah tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa dan lingkungan pesantren, takziah menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian sosial, penghormatan kepada keluarga yang berduka, sekaligus sarana mempererat hubungan antarsesama.

Bagi keluarga besar PAI dan MPI, praktik tersebut memiliki makna penting karena nilai-nilai pendidikan Islam tidak hanya diwujudkan melalui proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sosial. Kehadiran pimpinan fakultas dan pengelola program studi di tengah keluarga yang berduka menjadi bentuk nyata bahwa hubungan akademik tidak berhenti pada urusan administratif dan profesional, tetapi juga dibangun melalui kepedulian, empati, dan persaudaraan.

Takziah sebagai Wujud Empati dan Solidaritas

Makna utama takziah yang dilakukan rombongan adalah mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan rasa empati, serta menjadi pengingat akan hakikat kematian. Kehadiran secara langsung di tengah keluarga yang sedang berduka memberikan dukungan psikologis dan sosial bahwa keluarga tersebut tidak menghadapi masa duka seorang diri. Takziah juga memiliki dimensi tasliyah, yaitu memberikan penghiburan dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kehadiran, doa, perhatian, maupun bantuan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Dalam kehidupan sosial masyarakat, solidaritas semacam ini juga memiliki fungsi penting. Keluarga yang sedang mengalami musibah membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya, baik dalam bentuk moril maupun materil. Karena itu, takziah menjadi ruang untuk menghadirkan kepedulian secara nyata sekaligus meringankan beban sosial yang mungkin dirasakan oleh keluarga yang berduka. Selain memberikan penguatan kepada keluarga, takziah juga menjadi momentum untuk mendoakan almarhum dan almarhumah serta mengingatkan setiap orang yang hadir bahwa kematian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Merawat Kearifan Lokal di Lingkungan Akademik

Kegiatan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak selalu berbentuk tradisi atau ritual budaya, tetapi juga dapat hadir dalam praktik sosial yang mengandung nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kepedulian. Takziah merupakan salah satu praktik sosial-keagamaan yang hidup dalam masyarakat dan memiliki fungsi untuk menjaga hubungan antarmanusia ketika menghadapi peristiwa duka. Bagi lingkungan perguruan tinggi Islam, merawat praktik tersebut menjadi relevan dengan misi pendidikan yang menempatkan pembentukan karakter dan akhlak sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Nilai empati, kepedulian, silaturahmi, gotong royong, dan penghormatan terhadap keluarga yang berduka merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkan melalui keteladanan langsung.

Kehadiran pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris program studi, serta tenaga kependidikan -Zulaikhah (Kaprodi PAI), M. Syakur (Sekprodi PAI), Baqiatus Solihah (Sekprodi MPI), serta pimpinan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Bapak WD 1, Bapak Dr. Karnadi, Ibu WD 2, Ibu Prof. Fihris, dan Kabag TU  Ibu Siti Khotimah- dalam kegiatan takziah juga memperlihatkan adanya budaya kekeluargaan di lingkungan FITK. Solidaritas tidak hanya dibangun dalam kegiatan akademik, tetapi juga dalam momentum-momentum sosial yang menyentuh kehidupan personal warga kampus.

Menguatkan Tradisi, Menghidupkan Nilai

Di tengah kehidupan akademik yang semakin dinamis, tradisi takziah menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan antara profesionalitas dan kemanusiaan. Perguruan tinggi bukan hanya ruang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan nilai dan membangun hubungan sosial yang bermakna.

Kegiatan takziah PAI dan MPI menjadi pengingat bahwa ilmu, nilai keislaman, dan kehidupan sosial dapat berjalan beriringan. Nilai kepedulian tidak cukup hanya diajarkan, tetapi perlu dihadirkan melalui tindakan nyata.

Melalui kegiatan tersebut, PAI dan MPI FITK turut merawat kearifan lokal yang telah hidup dalam masyarakat sekaligus memperkuat semangat silaturahmi, empati, solidaritas, dan kepedulian sosial di lingkungan keluarga besar perguruan tinggi. Takziah akhirnya bukan hanya tentang hadir ketika seseorang meninggal dunia, tetapi juga tentang hadir bagi mereka yang ditinggalkan—menguatkan, mendoakan, dan menunjukkan bahwa dalam sebuah komunitas, duka seseorang adalah bagian dari kepedulian bersama.